Pemprov Lampung
Petani Diminta Bersiap, Tren Harga Singkong Nasional Akan Terus Turun
Permintaan tapioka global yang terus melemah sepanjang 2024–2025 berimbas langsung pada harga singkong di Lampung.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Endra Zulkarnain
Selain itu, stok tepung tapioka di Lampung saat ini bahkan menumpuk hingga 400 ribu ton. Dari hasil produksi tahun ini, hanya sebagian kecil yang terserap pasar, sehingga tekanan harga semakin berat dirasakan industri dan petani.
Suara MSI: Kemitraan dan Diversifikasi
Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Lampung Helmi Hasanuddin, menilai harga singkong di tingkat petani berpotensi terus turun hingga awal tahun depan. Menurutnya, perlu pola kemitraan konkret antara industri dan petani.
“Petani singkong perlu menjalankan panca usaha tani dengan dukungan pemerintah, BUMN, dan perusahaan swasta. Pola ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hasil dan menjaga keberlanjutan industri tapioka,” jelas Helmi di Bandar Lampung, Rabu (20/8/2025).
Ia juga menyinggung opsi diversifikasi ke jagung, dengan catatan harus berbasis ekosistem bisnis yang terintegrasi. “Beralih ke jagung bisa dilakukan, tapi harus berbasis eco region yang dibina berkelanjutan. Perlu pengering skala kecamatan, serta kemitraan dengan UMKM pakan dan peternak lokal dalam satu kawasan close loop bisnis. Ini harus dibangun di luar pola kemitraan dengan kartel besar,” terang Helmi.
Pandangan HPPTI: Proteksi Pasar dan Produktivitas
Sekretaris Himpunan Perusahaan Tepung Tapioka Indonesia (HPPTI), Tigor Silitonga, menilai tren penurunan penggunaan tapioka di dunia, khususnya pada industri kertas, berdampak serius bagi petani Lampung.
“Penggunaan kertas sudah jauh berkurang karena media elektronik semakin dominan. Kondisi ini ikut menekan permintaan tapioka, sehingga harga singkong di tingkat petani ikut terimbas,” kata Tigor di Bandar Lampung, Rabu (20/8/2025).
Ia menekankan pentingnya kebijakan proteksi pasar domestik. “Pembatasan impor harus jadi prioritas agar produk dalam negeri bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. Upaya ini perlu didukung dengan peningkatan produktivitas melalui pemberdayaan pola kemitraan antara petani dan pihak-pihak terkait,” jelasnya.
Meski wacana diversifikasi ke jagung muncul, Tigor menilai itu bukan solusi utama. “Jagung butuh perawatan maksimal dan ancaman hama belalang bisa muncul. Sementara singkong sudah membudaya dan mudah tumbuh, sehingga petani tidak bisa begitu saja meninggalkan tanaman ini,” ungkapnya.
Pemerintah pusat menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Jagung Rp5.500/kg dan menugaskan Bulog menyerap hingga 1 juta ton pada 2025. Kebijakan ini memberi kepastian harga bagi petani yang mencoba rotasi tanaman. Di pasar global, konsumsi jagung juga meningkat untuk pakan dan biofuel, sehingga peluang diversifikasi tetap terbuka.
Namun, baik MSI maupun HPPTI sepakat singkong tetap akan menjadi komoditas utama Lampung. Strategi jangka panjang adalah memperkuat industri tapioka nasional melalui efisiensi produksi, proteksi pasar, serta pola kemitraan berkelanjutan antara petani dan industri. (*)
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/rls)
| Arus Mudik-Balik Terkendali, Gubernur Lampung: Terimakasih Pak Kapolri dan Stakeholder Terkait |
|
|---|
| Prabowo Guyur Rp 839 Miliar untuk TNWK, Gubernur Lampung Sampaikan Apresiasi |
|
|---|
| Gubernur Mirza dan Wabup Nadirsyah Jamin Akses Vital Tubaba Kembali Mulus |
|
|---|
| Setahun Kepemimpinan Mirzan-Jihan, Lampung Bergerak Menuju Daerah Maju dan Berdaya Saing |
|
|---|
| Pemprov Lampung Tegaskan Jembatan Way Bungur Akan Dibangun Ulang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Pelanggaran-harga-dan-rafaksi-singkong-masih-marak.jpg)