Bisnis

Jejak 1 Abad Kebun Batangtoru dan Sejarah Warga Tapanuli Selatan

Kehidupan masyarakat Tapanuli Selatan berdenyut lintas generasi di tengah hamparan kebun yang sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.

Tayang:
Dokumentasi PTPN
KEBUN DI TAPANULI SELATAN - Kehidupan masyarakat Tapanuli Selatan berdenyut lintas generasi di tengah hamparan kebun yang sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Di tengah hamparan kebun yang sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu berdiri cukup lama, memandang kawasan Batangtoru yang baru saja dilanda bencana.

Di tempat inilah, menurutnya, denyut kehidupan masyarakat Tapanuli Selatan berdenyut lintas generasi.

“Kalau kita bicara Batangtoru, ini bukan hanya soal kebun. Ini soal sejarah hidup orang-orang di sini,” kata Gus Irawan kepada awak media yang mengikutinya, Selasa lalu (27/1/2026), di sela peninjauan lokasi pemulihan pascabencana.

Ia menuturkan, lebih dari satu abad keberadaan perkebunan negara di Batangtoru telah membentuk struktur sosial dan ekonomi masyarakat sekitarnya.

Banyak warga yang kini tinggal di desa-desa lingkar kebun merupakan pensiunan pekerja, atau anak dan cucu dari buruh kebun yang mengabdikan hidupnya puluhan tahun di kawasan tersebut.

“Tidak sedikit keluarga yang hidupnya bertumpu dari kebun ini sejak kakek-nenek mereka. Itu fakta yang harus dilihat secara jujur,” ujar Gus Irawan.

Bencana yang melanda sejumlah wilayah di Tapanuli Selatan beberapa waktu lalu memperlihatkan dengan jelas keterkaitan tersebut.

Saat banyak rumah warga rusak dan akses terputus, kawasan perkebunan menjadi salah satu ruang yang masih bisa menopang kebutuhan dasar masyarakat.

Menurut Bupati, sejak hari-hari awal bencana, area perkebunan dimanfaatkan sebagai tempat berlindung sementara, dapur umum, hingga lokasi pendistribusian bantuan.

“Yang terpenting saat itu adalah bagaimana warga bisa aman dulu. Soal administrasi dan lainnya menyusul,” katanya.

Dari situ, pemerintah daerah mulai memikirkan solusi jangka menengah dan panjang. Salah satunya melalui penyediaan lahan relokasi bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

Hingga Januari 2026, tercatat sekitar 30 hektare lahan telah disiapkan di beberapa titik, termasuk di Batangtoru dan Hapesong Baru, untuk pembangunan hunian sementara dan hunian tetap.

Di Hapesong Baru, pembangunan 227 unit hunian tetap telah berjalan. Progresnya, menurut data Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, telah mencapai sekitar 30 persen.

Gus Irawan mengatakan, percepatan pembangunan menjadi prioritas agar warga tidak terlalu lama hidup dalam kondisi darurat.

“Kita tidak ingin masyarakat terlalu lama tinggal di hunian sementara. Hidup harus segera normal kembali,” ucapnya.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved