Berita Lampung

Tiga Dekade Menanti, Mirza Gubernur Lampung Pertama yang Berdialog dengan Warga Rawa Pitu

Pertama kalinya seorang gubernur datang langsung dan berdialog dengan masyarakat Rawa Pitu yang dikenal sebagai lumbung pangan tersebut

Penulis: Riyo Pratama | Editor: soni yuntavia
Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama
PENINJAUAN - Gubernur Lampung beserta sejumlah OPD tinjau jalan Gedung Aji – Umbul Mesir, Rawa Pitu, Tulangbawang,  Selasa (3/3/2026). 

Tribunlampung.co.id, Tulangbawang – Penantian panjang warga Kecamatan Rawa Pitu akhirnya terjawab. 

Setelah lebih dari 30 tahun, untuk pertama kalinya seorang gubernur datang langsung dan berdialog dengan masyarakat di wilayah yang dikenal sebagai lumbung pangan tersebut.

Adalah Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, yang menempuh perjalanan kurang lebih lima jam dari Bandar Lampung untuk memantau langsung kondisi jalan lintas Gedung Aji – Umbul Mesir, Selasa (3/3/2026).

Perjalanan itu bukan sekadar kunjungan seremonial. Mirza bersama rombongan benar-benar melintasi jalan tanah berlubang yang selama ini menjadi keluhan warga.

Saat musim hujan, jalan tersebut bahkan tak bisa dilalui kendaraan roda empat karena berubah menjadi kubangan lumpur.

Di sepanjang ruas jalan itu, sedikitnya puluhan ribu penduduk menggantungkan harapan pada akses yang lebih baik. Mereka mayoritas petani padi, sawit, dan karet.

Subari, warga setempat, tak bisa menyembunyikan rasa harunya saat menyambut kedatangan gubernur.

“Terima kasih banyak untuk Pak Gubernur dan rombongan dari provinsi serta pemerintah daerah kabupaten termasuk anggota DPRD yang sudah sampai di sini dan melintasi langsung jalan ini.

Inilah yang kami rasakan, jalannya memang tidak baik dan jauh dari kata normal,” ujarnya.

Bagi warga, kehadiran orang nomor satu di Lampung itu menjadi kebanggaan tersendiri.

“Mudah-mudahan dengan hadirnya Pak Gubernur ke sini dan memperbaiki jalan, bisa meningkatkan kesejahteraan kami,” lanjutnya.

Ia bercerita, Rawa Pitu merupakan salah satu penyumbang swasembada pangan di Lampung. 

Luas sawah di kawasan itu mencapai sekitar 15 ribu hektare. Namun ironisnya, akses jalan yang rusak membuat hasil panen sulit didistribusikan.

“Setiap selesai panen, jalan makin hancur. Ditimbun, rusak lagi. Bertahun-tahun seperti ini,” keluhnya.

Bahkan, sebagai bentuk dukungan, warga menyatakan siap membantu jika kendaraan rombongan terjebak di genangan air.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved