Berita Lampung
Hobi Makan Combro Jadi Usaha Keluarga: Combro Comel Terjual Hingga 1.000 per Hari
Camilan berbahan dasar singkong di outlet tersebut terjual hingga ribuan potong setiap harinya.
Penulis: Bintang Puji Anggraini | Editor: Robertus Didik Budiawan Cahyono
Ringkasan Berita:
- Combro Comel yang berlokasi di Jl. Nusantara Terusan, Jl. Harapan, Jl. Angkasa Raya No. 3, Kota Bandar Lampung.
- Merupakan usaha yang dirintis berawal dari kegemaran makan combro.
- Kini camilan berbahan dasar singkong di outlet tersebut terjual hingga ribuan potong setiap harinya.
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Seorang wanita cekatan menggenggam serok dan spatula untuk menggoreng combro. Ia ligat membolak-balikkan makanan tradisional itu di dalam penggorengan.
Aktivitas itu yang terlihat di outlet Combro Comel yang berlokasi di Jl. Nusantara Terusan, Jl. Harapan, Jl. Angkasa Raya No. 3, Kota Bandar Lampung, pada Sabtu (7/3/2026).
Camilan berbahan dasar singkong di outlet tersebut terjual hingga ribuan potong setiap harinya.
Gita Elinda (29) mengelola outlet Combro Comel milik Rina Apriani sejak usaha tersebut dirintis.
“Sebetulnya yang punya itu Ibu Rina. Saya hanya membantu di sini, mengontrol produksi dan penjualan,” ujar Gita Sabtu (7/3/2026).
Baca juga: Combro Buatan Agus Pakai Bahan Singkong Berkualitas
Ia juga menceritakan awal mula berdirinya Combro Comel dimulai pada tahun 2002. Ide usaha ini justru muncul dari kebiasaan sederhana dari suami sang owner yang hobi makan combro setiap hari.
“Awalnya cuma coba-coba saja karena suaminya suka banget makan combro, hampir setiap hari. Lama-lama kepikiran, kenapa nggak bikin sendiri saja,” kata Gita.
Dari kebiasaan tersebut, muncul keinginan untuk mencoba membuat combro sendiri di rumah.
Kemudian mereka mulai melakukan percobaan membuat combro dan lahirlah ide untuk membuat combro yang berbeda dari biasanya.
Jika combro pada umumnya berbentuk halus dan polos, Combro Comel hadir dengan tekstur garing dan keriting yang menjadi ciri khasnya.
Awalnya, Combro Comel hanya memiliki dua varian rasa, yaitu original pedas dan misro yang manis. Seiring waktu, pelanggan mulai meminta variasi baru.
Akhirnya terciptalah varian kemangi, yang kini justru menjadi favorit pembeli. Aroma daun kemangi memberikan sensasi wangi sekaligus rasa pedas yang lebih kuat.
Selain itu, ada juga varian cemen, yang dibuat khusus untuk pelanggan yang tidak tahan pedas.
“Banyak yang bilang, yang request, minta combro yang tidak pedas, dari situ akhirnya kita buat varian yang tidak pedas yang kita namai cemen,” jelas Gita sambil tertawa.
Kini Combro Comel memiliki empat varian rasa, yaitu original pedas, kemangi pedas, cemen (tidak pedas) dan misro (manis).
Dalam sehari, Combro Comel ini mampu mengolah sekitar 50 kilogram singkong, yang dapat menghasilkan sekitar 800 hingga 1.000 combro.
Dengan penjualan sebanyak itu, mereka meraup omzet di puluhan juta dalam sebulan.
Bahan utamanya pun dijaga kualitasnya. Mereka menggunakan singkong ukuran besar yang didapat langsung dari pemasok.
“Kalau orang sering tanya pakai tepung atau tidak, kita tidak pakai. Murni singkong saja, tidak ada campuran,” kata Gita.
Menariknya, ketika usaha ini pertama kali berjalan, produksi mereka masih sangat terbatas. Dengan peralatan sederhana dan wajan kecil, membuat 100 combro saja bisa memakan waktu seharian.
Namun kini dengan perbantuan beberapa karyawan dan peralatan yang lebih canggih dari sebelumnya, membuat banyak combro bukanlah halangan bagi mereka.
Combro Comel dijual dengan harga yang relatif terjangkau mulai dari Rp.1.500 hingga Rp.2.000 per buah.
Combro Comel terus bertahan sebagai bukti bahwa usaha kecil berbasis makanan tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Selama lebih dari dua dekade, produksi combro dilakukan hanya dari rumah. Baru pada tahun 2023, usaha ini berkembang hingga akhirnya menyewa ruko untuk membuka outlet.
Kini, Combro Comel melayani pembelian langsung di toko maupun secara online melalui WhatsApp dan aplikasi layanan pesan antar.
Meski sudah berjalan lebih dari 20 tahun, tantangan tetap ada. Salah satu yang paling terasa adalah mengenalkan makanan tradisional seperti combro kepada generasi muda.
“Sekarang banyak anak Gen Z yang bahkan tidak tahu combro itu apa. Mereka sampai tanya, ‘Isinya apa sih, Kak?’,” ujar Gita.
Karena itu, inovasi rasa dan bentuk menjadi cara mereka lakukan agar makanan tradisional tetap diminati.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)
| 2 Wisatawan Korban Tenggelam di Pantai Suak Lampung Selatan Ditemukan Meninggal |
|
|---|
| Kronologi Penangkapan dan Deportasi WNA Singapura Nor Azmi di Lampung |
|
|---|
| Pegawai Pemkot Prabumulih Meninggal Setelah 9 Hari Koma Akibat Tabrak Lari Pikap Misterius |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Lampung Senin 18 Mei 2026, Waspada Hujan dan Angin Kencang |
|
|---|
| Video Pengakuan Ibu Bongkar Kelakuan Bejat Ayah Kandung ke Anak Perempuannya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Dari-Hobi-Makan-Combro-Jadi-Usaha-Keluarga-Combro-Comel-Terjual-Hingga-1000-per-Hari.jpg)