Berita Lampung

Ancaman El Nino Godzilla 2026 Bayangi Produksi Pangan Lampung

Ancaman El Nino ekstrem 2026 dikhawatirkan mengganggu produksi pangan di Lampung, daerah pemasok beras nasional dengan surplus sekitar 900 ribu ton.

Tayang:
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Noval Andriansyah
Tribunlampung.co.id/Deni Saputra
ANCAMAN EL NINO - Foto ilustrasi, lahan pertanian di Lampung Barat. Ancaman El Nino ekstrem atau El Nino Godzilla 2026 dikhawatirkan mengganggu produksi pangan di Lampung, daerah pemasok beras nasional dengan surplus sekitar 900 ribu ton. 

Ringkasan Berita:
  • Lampung waspada kemarau ekstrem 2026 akibat El Nino.
  • Risiko gagal panen padi & jagung, berdampak pada harga pangan.
  • Puncak kemarau diprediksi Juli–September (data BMKG).
  • Pemerintah siapkan irigasi, pompa air, embung, dan benih tahan kering. Langkah ini untuk jaga produksi dan stabilitas ekonomi.

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Pagi di hamparan sawah Lampung biasanya dimulai dengan rutinitas para petani yang memeriksa kondisi tanaman. Bagi mereka, perubahan cuaca sekecil apa pun bisa menjadi tanda yang perlu diwaspadai.

Belakangan ini, kekhawatiran mulai terasa di kalangan petani. Mereka mendengar kabar tentang potensi kemarau ekstrem yang diperkirakan terjadi pada 2026.

Jika hujan terlambat datang atau air irigasi berkurang, tanaman padi dan jagung yang menjadi andalan bisa terancam gagal panen.

Bagi daerah seperti Lampung yang dikenal sebagai satu di antara lumbung pangan nasional, gangguan pada sektor pertanian bukan hanya persoalan petani, tetapi juga bisa berdampak pada harga pangan di berbagai daerah.

Ancaman tersebut berkaitan dengan fenomena iklim ekstrem yang dijuluki El Nino Godzilla, yang diperkirakan dapat memicu kekeringan panjang pada 2026.

Baca juga: El Nino Godzilla Bisa Guncang Produksi Pangan Lampung 

Pemerintah Provinsi Lampung mulai mengantisipasi dampak serius fenomena tersebut, mengingat peran strategis daerah ini sebagai salah satu pemasok utama beras nasional.

Dengan produksi gabah mencapai sekitar 3,2 juta ton atau setara 1,7 juta ton beras per tahun, Lampung memiliki surplus sekitar 900 ribu ton yang selama ini disalurkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan gangguan kecil saja pada sektor pertanian dapat memicu efek berantai terhadap perekonomian.

“Jika produksi jagung turun, harga pakan naik, lalu harga ayam dan telur ikut terdorong. Ini bisa menekan daya beli masyarakat,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dampak El Nino diperkirakan mulai terasa pada Mei 2026.

Sementara puncak musim kemarau ekstrem diperkirakan terjadi pada periode Juli hingga September.

Kondisi ini berpotensi mengganggu tidak hanya produksi pangan, tetapi juga distribusi serta kestabilan harga di berbagai daerah yang bergantung pada pasokan dari Lampung.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung menyiapkan sejumlah langkah strategis.

Beberapa di antaranya adalah percepatan perbaikan jaringan irigasi, distribusi pompa air, serta optimalisasi embung dan sumur bor di wilayah yang rawan kekeringan.

Selain itu, para petani juga didorong mempercepat masa tanam dan menggunakan varietas benih yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved