Berita Lampung

Ramai Isu Merger dengan Gerindra, Begini Tanggapan NasDem Lampung

Menanggapinya, Ketua DPW NasDem Lampung Herman HN menegaskan bahwa isu merger antara Partai NasDem dan Partai Gerindra tidaklah benar.

Penulis: Riyo Pratama | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama
BANTAH MERGER - Ketua DPW NasDem Lampung Herman HN mengadakan konferensi pers di kantor DPW NasDem Lampung, Jalan Ahmad Yani, Bandar Lampung, Selasa (14/4/2026). Ia menegaskan bahwa isu merger antara Partai NasDem dan Partai Gerindra tidaklah benar. 

"Lanjut sebelahnya, sahut-menyahut dari Gondangdia ke Brawijaya. Eh, dari Gondangdia ke Kertanegara," celetuknya. 

Terlepas dari candaan di ruang rapat wakil rakyat itu, Gondangdia adalah kawasan kelurahan di kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, tempat markas NasDem berdiri, tepatnya di Jl RP Soeroso. 

Kertanegara sering menjadi julukan nama jalan di kawasan Jakarta Selatan, alamat salah satu kediaman Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Presiden RI Prabowo Subianto, yakni di Jl Kertanegara Nomor 4, Kebayoran Baru. 

Tanggapan NasDem

Wakil Ketua Umum Partai NasDem Saan Mustopa menanggapi isu merger antara Partai NasDem dan Partai Gerindra yang belakangan mencuat. 

Saan menegaskan bahwa kemunculan wacana tersebut adalah hal yang biasa dalam dinamika politik. 

“Sekali lagi sebagai sebuah ide atau wacana, gagasan itu hal yang biasa saja,” ujar Saan saat ditemui di Gedung DPR RI, Senin (13/4/2026). 

Saan mengaku juga baru mengetahui isu tersebut setelah ramai dibicarakan. Dia menerangkan, dalam terminologi politik, penggabungan partai lebih tepat disebut sebagai fusi, bukan merger atau akuisisi. 

Meski demikian, Saan menilai realisasi fusi bukan perkara mudah karena harus mempertimbangkan banyak aspek mendasar dalam partai politik. 

“Ketika mau diwujudkan, banyak hal yang harus dipikirkan. Terkait ideologi, identitas, eksistensi masing-masing partai,” jelas Saan. 

Menurut Saan, setiap partai politik dibangun atas dasar idealisme, gagasan, hingga ideologi para pendirinya. 

Karena itu, penyatuan dua partai tidak bisa dilakukan secara sederhana. 

“Partai itu refleksi dari idealisme, gagasan, bahkan ideologi para pendirinya. Itu tidak gampang untuk difusikan,” kata dia. 

Dia pun menyinggung pengalaman fusi partai yang sempat terjadi di Indonesia pada 1973. 

Menurut dia, agenda itu terjadi dalam konteks politik berbeda dengan kondisi saat ini. 

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved