Berita Lampung

Waspada Longsor, BPBD Lamteng Memperkuat Sistem Peringatan Dini Berbasis Masyarakat

Upaya konkret yang dilakukan BPBD Lampung Tengah itu mulai dari pemetaan wilayah rawan hingga penguatan sistem peringatan dini berbasis masyarakat.

Tribunlampung.co.id/Kominfo
BENCANA - Kepala BPBD Lampung Tengah Ricky Augusta bersama Plt. Bupati Lampung Tengah dan jajaran OPD saat meninjau alat operasional kebencanaan, Selasa (14/4/2026). (Kominfo) 

Ringkasan Berita:
  • Kepala BPBD Lampung Tengah melakukan berbagai upaya konkret dalam menghadapi potensi bencana longsor.
  • Upaya tersebut menindaklanjuti imbauan Badan Informasi Geospasial serta Badan Geologi Kementerian ESDM.
  • Disebut sejumlah wilayah di Lampung kategori rawan bencana gerakan tanah (longsor) selama April 2026, termasuk Lampung Tengah.

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Kepala BPBD Lampung Tengah Ricky Augusta mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya konkret dalam menghadapi potensi bencana gerakan tanah (longsor) selama April 2026.

Upaya tersebut menindaklanjuti imbauan Badan Informasi Geospasial serta Badan Geologi Kementerian ESDM yang menyebut sejumlah wilayah di Lampung kategori rawan bencana gerakan tanah.

Satu di antaranya adalah Lampung Tengah. Selain itu Bandar Lampung, Metro, Lampung Barat, Lampung Selatan, Tanggamus dan Pesisir Barat.

Ditambahkan Ricky, upaya konkret yang dilakukan BPBD Lampung Tengah itu mulai dari pemetaan wilayah rawan hingga penguatan sistem peringatan dini berbasis masyarakat.

"Fokus kami bukan hanya pada respons saat bencana terjadi, tetapi juga memastikan masyarakat paham risiko sejak awal. Edukasi dan sosialisasi menjadi kunci," ujar Ricky saat dihubungi, Selasa (14/4/2026).

Baca juga: TNI Bantu Evakuasi Puing Bangunan Terdampak Puting Beliung di Kalirejo Lampung Tengah

Menurut dia, identifikasi wilayah rawan dilakukan dengan mengacu pada data historis kejadian longsor dari portal milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana serta kajian risiko bencana. 

Menurutnya, wilayah dengan indeks bahaya sedang hingga tinggi menjadi prioritas dalam upaya mitigasi.

Selain itu, lanjutnya, BPBD juga memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan BMKG untuk pemantauan cuaca serta instansi teknis lainnya. 

Sistem pemantauan, termasuk sensor longsor yang terhubung dengan Pusdalops, dipastikan dalam kondisi optimal.

Di tingkat masyarakat, langkah kesiapsiagaan dilakukan melalui pengecekan jalur evakuasi, kesiapan tempat pengungsian, hingga penguatan peran Desa Tangguh Bencana (Destana). 

BPBD juga mendorong penyebaran informasi peringatan dini melalui berbagai kanal, seperti grup WhatsApp dan media sosial.

"Peralatan komunikasi seperti sirene, kentongan, dan handy talky kami pastikan berfungsi. Ini penting agar informasi bisa cepat diterima masyarakat hingga level desa," kata Ricky.

Ia menambahkan, perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok rentan, termasuk lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas, dalam skema evakuasi darurat.

Dalam upaya mitigasi jangka pendek, BPBD bersama pemerintah daerah dan masyarakat melakukan pembersihan saluran air, penanaman vegetasi berakar kuat, serta pembangunan dinding penahan tanah di titik rawan longsor.

Jika situasi memburuk, pemerintah daerah siap menetapkan status siaga darurat dan membentuk pos komando penanganan bencana untuk mempercepat koordinasi di lapangan.

"Harapannya, dengan kesiapsiagaan yang lebih baik, risiko korban jiwa dan kerugian dapat ditekan seminimal mungkin," ujar Ricky. (Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved