Berita Lampung

Nelayan Lampung Timur Terjepit Solar Mahal, Kampung Merah Putih Jadi Harapan

Ratusan nelayan di Kecamatan Labuhan Maringgai kini menaruh harapan besar pada pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih.

Tayang:
Penulis: Fajar Ihwani Sidiq | Editor: Kiki Novilia
Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq
NELAYAN LAMPUNG - Ramtana seorang nelayan asal Desa Margasari Lampung Timur sedang memeriksa peralatan kapal sebelum pergi melaut, Jumat (8/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Ratusan nelayan di Kecamatan Labuhan Maringgai kini menaruh harapan besar pada pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih yang diharapkan menjadi solusi atas karut-marut tata kelola ekonomi pesisir.
  • Kelangkaan dan tingginya harga solar selama ini mencekik para nelayan yang ada di sana.
  • Belum lagi cuaca ekstrem yang terjadi selama Januari hingga Mei, jarak pandang di laut bisa hilang seketika akibat hujan angin dan kabut tebal.

Tribunlampung.co.id, Lampung TimurDi bawah terik matahari pesisir Lampung Timur, Pak Ramtana (35) tampak sibuk mengecek tumpukan wadah fiber di atas kapalnya. 

Bagi pria yang telah melaut sejak tahun 2007 ini, ombak besar bukan lagi satu-satunya tantangan yang harus ia hadapi. 

Ada persoalan yang jauh lebih pelik dan mengancam dapur para nelayan di Desa Margasari, kelangkaan dan tingginya harga solar.

"Solar sekarang susah. Kadang sampai Rp 13.000 per liter, atau kalau beli satu jeriken (30 liter) itu bisa Rp 400.000," ujar Ramtana saat ditemui di sela aktivitasnya, awal Mei 2026.

Padahal, kata dia, satu jeriken tersebut hanya cukup untuk modal melaut selama tiga malam. 

Baca juga: Wapres Gibran Tanggapi Curhat Nelayan Lampung Timur, Ungkap Rencana Pengerukan Muara

Di tengah ketidakpastian itu, Ramtana dan ratusan nelayan di Kecamatan Labuhan Maringgai kini menaruh harapan besar pada pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih yang diharapkan menjadi solusi atas karut-marut tata kelola ekonomi pesisir.

Dia menceritakan, kondisi ekonomi yang kian menjepit memaksa nelayan beralih strategi. 

Banyak dari mereka kini memilih memburu gurita menggunakan metode unik yakni umpan cangkang keong buatan.

Berbeda dengan jaring konvensional yang sering rusak dalam hitungan minggu, alat tangkap "kambangan" yang terdiri dari sekitar 300 cangkang keong ini jauh lebih awet. 

Meski modal awalnya tidak murah bisa mencapai Rp 3 juta hingga Rp 15 juta untuk skala besar, alat ini dianggap sebagai investasi jangka panjang.

"Kalau jaring itu seminggu paling sudah hancur. Kalau pakai keong, modalnya sekali tapi bisa dipakai lama. Kita juga bisa sedikit istirahat di rumah tanpa harus terus-menerus memperbaiki jaring," tambah Ramtana.

Dia mengatakan, teknik ini menuntut ketelatenan. Nelayan harus menempuh perjalanan minimal satu jam menuju "fishing ground" di sekitar Pulau Mundu dan Pulau Dua. 

Dengan harga pasar gurita yang mencapai Rp 95.000 per kilogram, pendapatan tersebut tampak menggiurkan. Namun, biaya operasional seringkali menyedot habis keuntungan tersebut.

"Biaya operasional atau biaya "ransum" yang biasa disebut oleh nelayan sini untuk saya mencapai Rp 1 juta per trip tiga hari dua malam," kata dia.

Bukan hanya soal rupiah, tuturnya, nyawa pun menjadi pertaruhan. Ramtana mengaku, saat cuaca ekstrem melanda di bulan Januari hingga Mei, jarak pandang di laut bisa hilang seketika akibat hujan angin dan kabut tebal.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved