Berita Lampung
Pemicu Ponpes Nurul Jadid Dibakar Warga, Ada Dugaan Asusila, Kondisi Terkini Terkuak
Dugaan kasus asusila disebut jadi pemicu ratusan warga membakar Ponpes Nurul Jadid di Mesuji. Polisi pastikan situasi kini kondusif.
Penulis: Bayu Saputra | Editor: Noval Andriansyah
Ringkasan Berita:
- Ponpes Nurul Jadid di Kabupaten Mesuji, Lampung dibakar massa usai dugaan kasus asusila.
- Polisi sebut situasi kini mulai kondusif.
- Massa marah karena pimpinan ponpes MFS kembali datang ke lokasi.
- Sekitar 500 warga sempat bertindak anarkis & bakar bangunan. Satu orang diamankan terkait aksi pembakaran.
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Situasi di sekitar Pondok Pesantren Nurul Jadid, Desa Tanjung Mas Jaya, Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji, Lampung, kini dipastikan mulai kondusif usai aksi pembakaran yang sempat memicu ketegangan warga.
Di balik amukan massa itu, polisi mengungkap adanya dugaan kasus asusila yang menyeret pimpinan pondok pesantren berinisial MFS hingga memicu kemarahan warga.
Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun mengatakan pihak kepolisian terus memantau perkembangan situasi pasca pembakaran yang terjadi pada Jumat (8/5/2026) malam.
“Terkait pasca pembakaran di wilayah Mesuji, alhamdulillah situasinya masih kondusif. Polisi mengimbau kepada masyarakat untuk mempercayakan semuanya kepada aparat kepolisian dalam penanganan pembakaran tersebut,” kata Yuni saat diwawancarai Tribun Lampung, Senin (11/5/2026).
Polisi juga memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Satu orang berinisial A telah diamankan terkait aksi pembakaran itu.
Baca juga: Kapolres Mesuji Polda Lampung Imbau Masyarakat Paska Pembakaran Ponpes
“Betul ada satu orang yang diamankan. Barang bukti yang ditemukan di antaranya kendaraan roda dua,” ujar Yuni.
Meski demikian, polisi masih mendalami peran tersangka serta keterlibatan pihak lain dalam aksi anarkis tersebut.
Dugaan Asusila Jadi Pemicu
Kapolres Mesuji AKBP M Firdaus menjelaskan, kemarahan warga bermula dari dugaan tindak pidana pencabulan yang disebut melibatkan pimpinan ponpes berinisial MFS terhadap santriwati.
Kasus itu sebenarnya disebut sudah lama menjadi polemik di tengah masyarakat.
“Adanya surat kesepakatan musyawarah antara warga setempat dengan pimpinan pondok pesantren yang mana salah satu isi surat kesepakatannya pimpinan pondok pesantren MFS meninggalkan pondok pesantren,” kata Firdaus.
Namun warga kembali emosi setelah mengetahui MFS kembali datang ke pondok pesantren untuk menemui cucunya.
Warga lalu berkumpul usai salat Jumat dan mendatangi ponpes untuk menyampaikan aspirasi agar MFS segera meninggalkan lokasi.
Awalnya situasi berjalan kondusif dan sempat tercapai kesepakatan bahwa MFS akan pergi sebelum pukul 00.00 WIB.
Namun kondisi mulai memanas pada malam hari karena warga menilai tidak ada tanda-tanda MFS meninggalkan pondok pesantren.
“Masyarakat mulai tidak sabar disebabkan Kiyai MFS tidak segera meninggalkan Pondok Pesantren Nurul Jadid,” ujar Firdaus.
| Jalan Pattimura Metro Dikebut, Target Rampung September |
|
|---|
| Hilirisasi Kopi Tanggamus, Bupati Saleh Akan Datangkan Alat dari Brasil |
|
|---|
| Komang Sebut ETPD Dapat Tingkatkan PAD Lampung Tengah |
|
|---|
| Libatkan Kementerian, Pornas Korpri Jadi Momentum Kenalkan Lampung di Level Nasional |
|
|---|
| Alasan Gubernur Mirza Sebut Lampung Berpotensi Jadi Lumbung Ternak Nasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/sejumlah-petugas-damkar-tengah-memadamkan-api-di-ponpes-salafiyah-al-hijrotul-munawaroh.jpg)