TPPO di Lampung
Pengamat Soroti Peran Keluarga, Apresiasi Aparat Bongkar TPPO di Lampung
Pengamat Universitas Lampung menilai keluarga jadi benteng utama mencegah TPPO di tengah maraknya perekrutan korban lewat media sosial.
Penulis: Dominius Desmantri Barus | Editor: Noval Andriansyah
Ringkasan Berita:
- Dosen Universitas Lampung sebut keluarga jadi benteng utama cegah TPPO.
- Pernyataan muncul usai Polda Lampung ungkap kasus TPPO libatkan anak 17 tahun.
- Korban diduga direkrut lewat iming-iming kerja di Surabaya.
- Media sosial dinilai jadi sarana utama perekrutan korban.
- Pemerintah diminta perkuat edukasi & lapangan kerja.
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Peran keluarga dinilai menjadi benteng paling penting untuk mencegah generasi muda terjerumus praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), di tengah maraknya perekrutan korban melalui media sosial dan iming-iming pekerjaan instan.
Hal itu disampaikan Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Lampung, Iwan Sulistyo, saat mengapresiasi keberhasilan Polda Lampung mengungkap kasus TPPO yang melibatkan seorang anak berinisial SAS (17).
Dalam kasus tersebut, pelaku diduga merekrut dua anak perempuan di bawah umur untuk dipekerjakan sebagai terapis plus-plus di Surabaya, Jawa Timur.
Iwan menilai pengungkapan kasus perdagangan orang bukan perkara mudah karena membutuhkan kombinasi kerja intelijen aparat dan dukungan informasi dari masyarakat.
“Kita sangat mengapresiasi keberhasilan Polda Lampung dalam mengungkap kasus TPPO yang baru saja terjadi. Harapannya, selain bersandar pada intelijen di lapangan, juga harus bertumpu pada laporan masyarakat, keluarga korban, atau berbagai pihak yang dapat mengendus adanya potensi TPPO,” kata Iwan, Selasa (12/5/2026).
Baca juga: Kasus TPPO, Pemkot Bandar Lampung Minta Guru Awasi Pergaulan Medsos Siswa
Sebagai pengamat bidang kejahatan global dan politik internasional, ia menyebut penanganan kasus perdagangan orang memerlukan keseriusan aparat penegak hukum karena modus pelaku terus berkembang.
“Karenanya, apresiasi bagi Tim Polda Lampung,” ujarnya.
Iwan mengungkapkan, dalam sekitar 10 tahun terakhir kasus TPPO di Lampung memang masih berada di angka puluhan kasus.
Meski tidak setinggi daerah lain seperti Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Jawa Barat yang mencapai ratusan kasus, menurutnya kondisi tersebut tetap memprihatinkan.
“Angka ini, entah puluhan ataupun ratusan, adalah hal yang sangat memilukan dan mengiris hati kita sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat kemanusiaan,” katanya.
Ia lalu menyoroti pentingnya pengawasan keluarga terhadap anak-anak dan remaja di era digital.
Menurutnya, keluarga seharusnya menjadi agen sosialisasi utama dalam menanamkan nilai moral, etika, dan agama kepada generasi muda.
Namun kenyataannya, media sosial kini jauh lebih dominan memengaruhi pola pikir anak muda dibanding lingkungan keluarga.
“Nilai-nilai tidak etis dan tidak baik justru sulit disaring generasi muda, terutama mereka yang lahir setelah 1996. Mereka sangat rentan tergiring rayuan pekerjaan yang tidak tepat dari perspektif etis kemanusiaan,” jelasnya.
Iwan menilai keberhasilan pengungkapan kasus TPPO juga penting untuk menciptakan efek psikologis terhadap para pelaku.
| Gubernur Lampung Kutuk Keras TPPO, Pastikan Pendampingan Korban hingga Pulih |
|
|---|
| Diduga Jual Dua Anak ke Surabaya, Tersangka TPPO Terancam Penjara 15 Tahun |
|
|---|
| 2 Siswi SMP Jadi Korban TPPO, Eva Dwiana Akan Kerahkan Satgas Anak |
|
|---|
| Polisi Bongkar Sindikat TPPO Pelajar SMP, DAMAR Lampung Soroti Pendampingan Korban |
|
|---|
| Dua Anak Jadi Korban TPPO, Dijanjikan Kerja Terapis Plus-plus Bergaji Rp8 Juta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/konferensi-pers-kasus-TPPO-di-Mapolda-Lampung-11.jpg)