TPPO di Lampung

Pengamat Soroti Peran Keluarga, Apresiasi Aparat Bongkar TPPO di Lampung

Pengamat Universitas Lampung menilai keluarga jadi benteng utama mencegah TPPO di tengah maraknya perekrutan korban lewat media sosial.

Tayang:
Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra
UNGKAP KASUS TPPO - Kapolda Lampung Irjen Helfi Assegaf memimpin konferensi pers kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Mapolda Lampung, Selasa (12/5/2026). Hadir pula Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana. Pengamat soroti peran keluarga hingga apresiasi gerak cepat aparat. 

Ringkasan Berita:
  • Dosen Universitas Lampung sebut keluarga jadi benteng utama cegah TPPO.
  • Pernyataan muncul usai Polda Lampung ungkap kasus TPPO libatkan anak 17 tahun.
  • Korban diduga direkrut lewat iming-iming kerja di Surabaya.
  • Media sosial dinilai jadi sarana utama perekrutan korban.
  • Pemerintah diminta perkuat edukasi & lapangan kerja.

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Peran keluarga dinilai menjadi benteng paling penting untuk mencegah generasi muda terjerumus praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), di tengah maraknya perekrutan korban melalui media sosial dan iming-iming pekerjaan instan.

Hal itu disampaikan Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Lampung, Iwan Sulistyo, saat mengapresiasi keberhasilan Polda Lampung mengungkap kasus TPPO yang melibatkan seorang anak berinisial SAS (17).

Dalam kasus tersebut, pelaku diduga merekrut dua anak perempuan di bawah umur untuk dipekerjakan sebagai terapis plus-plus di Surabaya, Jawa Timur.

Iwan menilai pengungkapan kasus perdagangan orang bukan perkara mudah karena membutuhkan kombinasi kerja intelijen aparat dan dukungan informasi dari masyarakat.

“Kita sangat mengapresiasi keberhasilan Polda Lampung dalam mengungkap kasus TPPO yang baru saja terjadi. Harapannya, selain bersandar pada intelijen di lapangan, juga harus bertumpu pada laporan masyarakat, keluarga korban, atau berbagai pihak yang dapat mengendus adanya potensi TPPO,” kata Iwan, Selasa (12/5/2026).

Baca juga: Kasus TPPO, Pemkot Bandar Lampung Minta Guru Awasi Pergaulan Medsos Siswa   

Sebagai pengamat bidang kejahatan global dan politik internasional, ia menyebut penanganan kasus perdagangan orang memerlukan keseriusan aparat penegak hukum karena modus pelaku terus berkembang.

“Karenanya, apresiasi bagi Tim Polda Lampung,” ujarnya.

Iwan mengungkapkan, dalam sekitar 10 tahun terakhir kasus TPPO di Lampung memang masih berada di angka puluhan kasus.

Meski tidak setinggi daerah lain seperti Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Jawa Barat yang mencapai ratusan kasus, menurutnya kondisi tersebut tetap memprihatinkan.

“Angka ini, entah puluhan ataupun ratusan, adalah hal yang sangat memilukan dan mengiris hati kita sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat kemanusiaan,” katanya.

Ia lalu menyoroti pentingnya pengawasan keluarga terhadap anak-anak dan remaja di era digital.

Menurutnya, keluarga seharusnya menjadi agen sosialisasi utama dalam menanamkan nilai moral, etika, dan agama kepada generasi muda.

Namun kenyataannya, media sosial kini jauh lebih dominan memengaruhi pola pikir anak muda dibanding lingkungan keluarga.

“Nilai-nilai tidak etis dan tidak baik justru sulit disaring generasi muda, terutama mereka yang lahir setelah 1996. Mereka sangat rentan tergiring rayuan pekerjaan yang tidak tepat dari perspektif etis kemanusiaan,” jelasnya.

Iwan menilai keberhasilan pengungkapan kasus TPPO juga penting untuk menciptakan efek psikologis terhadap para pelaku.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved