Idul Adha 2026
Siasat Peternak di Lampung Hadapi Sepinya Penjualan, meski Jelang Idul Adha
Jelang Idul Adha, peternak kambing di Lampung Tengah terpaksa jual ternak ke pasar daging harian karena penjualan hewan kurban sepi.
Penulis: Fajar Ihwani Sidiq | Editor: Noval Andriansyah
Ringkasan Berita:
- Peternak kambing Lampung Tengah keluhkan penjualan sepi. Harga kambing jantan turun Rp300 ribu per ekor.
- Kambing betina disebut nyaris tak laku dijual. Peternak kalah saing dengan pasokan kambing Jawa.
- Biaya pakan dan vitamin terus membengkak. Sebagian peternak jual kambing ke pasar daging.
- Harga daging kambing kini Rp130 ribu sekilo. Peternak berharap pemerintah menstabilkan harga ternak.
Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Menjelang Idul Adha, para peternak kambing di Lampung Tengah justru dipaksa memutar otak menghadapi sepinya penjualan hewan kurban.
Demi menekan kerugian, sebagian dari mereka kini memilih menjual kambing ke pasar daging harian ketimbang menunggu pembeli kurban datang.
Kondisi itu dirasakan Sukis, peternak kambing di Kampung Jaya Sakti, Kecamatan Anak Tuha. Sepekan jelang Idul Adha 1447 Hijriah, kandang miliknya masih dipenuhi ternak yang belum laku terjual.
Padahal biasanya, beberapa minggu sebelum hari raya, pesanan dari agen maupun pembeli sudah ramai berdatangan. Tahun ini suasananya berbeda. Lapak hewan kurban justru lebih banyak sepi dibanding transaksi.
Menurut Sukis, harga kambing jantan siap kurban juga ikut turun dibanding tahun lalu. Penurunannya bahkan mencapai sekitar Rp300 ribu per ekor. Sementara untuk kambing betina, kondisinya disebut lebih parah karena nyaris tidak bergerak di pasaran.
Baca juga: Jelang Idul Adha, Peternak di Lampung Tengah Mengeluh Penjualan Sepi
Di tengah kondisi itu, biaya perawatan ternak tetap berjalan setiap hari. Mulai dari kebutuhan rumput, pakan tambahan, vitamin hingga obat-obatan ternak terus menguras pengeluaran peternak.
Sukis mengatakan lesunya pasar hewan ternak saat ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni kalah bersaing dengan pasokan ternak luar daerah dan menurunnya daya beli masyarakat.
"Kalau di pasaran sih sekarang ini lagi turun, Mas. Enggak kayak tahun-tahun kemarin. Harga kalau di wilayah Lampung Tengah kayaknya menurun," ujar Sukis, Selasa (19/5/2026).
Menurut Sukis, penurunan harga kambing jantan siap kurban saat ini mencapai kisaran Rp300 ribu per ekor dari harga normal tahun lalu.
Selain harga kambing jantan yang tertekan, Sukis menyebut kondisi pasar untuk kambing betina jauh lebih memprihatinkan dan tidak bergerak.
"Kalau masalah kambing betina juga hancur sekarang," tambah Sukis.
Saat ini, kata dia, populasi ternak yang tersisa dan sulit terjual di kandang didominasi oleh kambing betina serta indukan.
Biasanya, beberapa pekan menjelang Idul Adha, aktivitas pemesanan hewan kurban dari agen maupun konsumen langsung sudah mengalami lonjakan tajam.
Namun, lanjut dia, realita di lapangan tahun ini memaksa peternak gigit jari karena lapak-lapak pemesanan masih sepi.
Sukis menduga, salah satu penyebab sepinya pembeli lokal adalah karena banyaknya pasokan hewan ternak yang didatangkan dari luar wilayah Lampung, khususnya dari Pulau Jawa, yang masuk dengan harga lebih miring.
"Kalau untuk saat ini saya sepi, Mas. Ini karena apa ya, udah banyak yang nyetok (dari luar) mungkin ya. Kambing di wilayah Lampung kalah harga dengan kambing kiriman dari Pulau Jawa," ungkapnya.
Dia mengatakan, tertahannya hewan ternak di dalam kandang otomatis berimbas pada rantai ekonomi peternak di Kecamatan Anak Tuha.
Karena kambing belum terjual, para peternak terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk perawatan harian yang terus membengkak.
Biaya operasional tersebut meliputi, penyediaan pakan rumput hijau, pembelian konsentrat tambahan, dan pengadaan vitamin dan obat-obatan ternak.
Kondisi ini kian menjepit posisi peternak, mengingat kebutuhan hidup rumah tangga menjelang hari raya juga biasanya mengalami peningkatan.
"Untuk menyiasati keadaan agar tidak terus merugi, sebagian peternak terpaksa beralih strategi dengan menjual ternak mereka ke pasar daging konsumsi harian, bukan lagi sebagai hewan kurban utuh," jelas dia.
"Di pasar tradisional setempat, harga daging kambing saat ini bertengger di angka Rp130.000 per kilogram," ujarnya.
Namun, lanjut Sukis, sistem transaksi untuk kebutuhan jagal ini umumnya menggunakan metode taksiran bobot hidup secara langsung atau sistem jogrok.
"Sebab daging kita mestinya jogrok, Mas. Kita jogrok, juga dicek juga taksiran dia itu berapa kilo, itu penawaran itu. Pembeli juga cenderung hanya memburu kambing berjenis kelamin jantan yang siap potong," jelas Sukis mengenai sistem tawar-menawar di pasar.
Dia menambahkan, melihat iklim usaha peternakan rakyat yang kian terpuruk menjelang momentum Idul Adha 2026, Sukis dan para peternak lokal di Kampung Jaya Sakti berharap ada langkah nyata dari pemerintah daerah.
Peternak mendesak adanya regulasi atau intervensi pasar yang ketat untuk mengontrol masuknya pasokan ternak luar daerah demi menstabilkan harga di tingkat lokal.
"Iya, Mas, bertambah (biaya operasional). Terus apalagi kita kebutuhan kita kan ini kan. Kita harapkan ibaratnya untuk pemerintah bisa inilah, mengatasi lah. Gimana sih harga kambing supaya bisa standar, jadi untuk masyarakat yang melihara enggak terlalu tekor," pungkas Sukis.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/SEPI-PEMBELI-Sukis-salah-seorang-peternak-kambing.jpg)