Berita Lampung

40 Rumah di Wates Lampung Tengah Memprihatinkan, Satu Nyaris Ambruk

Setidaknya terdapat 40 rumah warga yang berada di bawah garis kemiskinan dan kondisinya sangat memprihatinkan. 

Tayang:
Penulis: Fajar Ihwani Sidiq | Editor: taryono
Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq
KONDISI rumah warga di Kampung Wates. Sebuah gubuk miring berdinding gedek (anyaman bambu) yang telah lapuk berdiri sunyi di antara rimbunnya pohon kelapa di Kampung Wates, Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Lampung Tengah. Rumah itu tidak sekadar tua, tetapi sedang berjuang melawan gravitasi, Jumat (22/5/2026). (Fajar Ihwani) 

Ringkasan Berita:
  • Kampung Wates, Lampung Tengah, hadapi krisis hunian layak.
  • Sekitar 40 rumah warga berada di bawah garis kemiskinan.
  • Salah satu rumah semi permanen nyaris roboh, ditopang bambu darurat.
  • Penghuni: sepasang suami istri dengan penghasilan tidak menentu.

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Masalah kemiskinan dan ketimpangan hunian layak di Kampung Wates, Kecamatan Bumi Ratu Nuban, semakin mendesak. Setidaknya terdapat 40 rumah warga yang berada di bawah garis kemiskinan dan kondisinya sangat memprihatinkan. 

Salah satunya bahkan kini miring dan terancam ambruk.

Kepala Kampung Wates, Deni Ariyanto, menuturkan, salah satu rumah tersebut adalah gubuk semi permanen berdinding gedek (anyaman bambu) yang lapuk. Bangunan itu berdiri sunyi di antara rimbunnya pohon kelapa, dihuni sepasang suami istri. 

“Rumah ini miring secara signifikan ke arah kanan. Demi mencegah ambruk, pemilik terpaksa menopangnya dengan beberapa batang bambu panjang sebagai tiang penyangga darurat di sisi luar,” ujar Deni, Jumat (22/5/2026).

Tumpuan bambu tersebut menjadi satu-satunya benteng agar rumah tidak roboh saat diterjang angin kencang atau hujan deras. 

Deni menegaskan, kondisi rumah sangat berisiko, terutama menjelang musim penghujan. 

“Penyangga bambu di samping rumah sewaktu-waktu bisa patah jika tidak segera mendapatkan renovasi total,” katanya.

Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi rumah miring tersebut sangat membahayakan keselamatan penghuninya. 

Meski terdapat kabel listrik dan meteran kecil di dinding depan, barang-barang rumah tangga yang berserakan di atas tanah menggambarkan potret kemiskinan yang nyata.

Deni menjelaskan, rumah yang nyaris roboh itu menjadi ruang hidup bagi sepasang suami istri yang terjebak dalam ketidakpastian ekonomi. Sang suami bekerja sebagai sopir tembak dengan penghasilan tidak menentu, sementara sang istri hanya sesekali bekerja serabutan, seperti menjadi buruh cuci pakaian.

“Rumah warga kami ini memang kondisinya sangat-sangat memprihatinkan. Pemiliknya adalah warga tidak mampu,” tegas Deni.

Gubuk miring tersebut hanyalah salah satu contoh dari puluhan rumah lain dengan nasib serupa di Kampung Wates. Aparatur kampung telah menempuh langkah birokrasi demi menyelamatkan hajat hidup puluhan kepala keluarga agar bisa mendapatkan program bedah rumah dari pemerintah.

“Ini salah satu rumah dari sekitar 40 rumah yang sudah kami ajukan ke Dinas Perkim Lampung Tengah,” kata Deni.

Deni berharap pemerintah daerah segera menyalurkan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ke Kampung Wates sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. 

“Kami sangat berharap pemerintah dapat memberikan pembangunan rumah layak bagi warga kami. Sekali lagi, saya, Kepala Kampung Wates, memohon dengan sangat kepada pemerintah untuk bisa berpartisipasi,” pungkasnya.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved