Pendidikan
Bambu Sakral 'Kawoh Bingkok' dari Kaki Gunung Pesagi
Pada zaman dahulu, bilah bambu yang ditajamkan sebagai belati untuk memotong tali pusar bayi pada proses kelahiran di desa-desa.
Mengungkap jenis Schizostachyum caudatum Backer Ex Heyne: Bambu Sakral "Kawoh Bingkok" dari Kaki Gunung Pesagi
Oleh: Yeni Rahayu
Mahasiswa Program Doktor Biologi dengan bidang minat Sistematika Tumbuhan, di Program Pascasarjana Doktoral Biologi, FMIPA, Universitas Brawijaya.
Sejak zaman dahulu, bambu telah menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Indonesia, maupun Asia. Bambu dipakai mulai dari seseorang dilahirkan hingga ke liang lahat.
Pada zaman dahulu, bilah bambu yang ditajamkan sebagai belati untuk memotong tali pusar bayi pada proses kelahiran di desa-desa.
Geritan (baby walker) dibuat dari bambu untuk membantu bayi belajar berjalan. Saat bayi menginjak usia kanak-kanak dan remaja, enggrang bambu merupakan permainan tradisional yang mengasah motorik dan keseimbangan.
Saat seseorang beranjak dewasa dan melangsungkan pernikahan, bambu digunakan untuk tiang janur sekaligus penanda rumah pemilik hajat.
Keranda bambu masih banyak dipakai mengantarkan jenazah ke pemakaman, dan potongan bambu kerap menggantikan papan penyangga mayat di liang kubur.
Bambu dimanfaatkan mulai dari struktur bangunan hingga bahan pengobatan, dan kerajinan anyaman. Tumbuhan bambu adalah simbol adaptabilitas dan ketangguhan.
Sejumlah 108 jenis bambu tumbuh subur dan dikenali masyarakat Indonesia, namun baru 12 jenis yang potensinya telah tergali dengan baik (Widjaja, 2019).
Dalam gencatan modernisasi, banyak jenis bambu mulai terpinggirkan, dianggap sekadar rumput liar (gulma), atau bahkan dijauhi karena mitos yang menyelimutinya.
Rumpun bambu yang rimbun dan gelap sering kali dikaitkan dengan entitas mistis, atau anggapan tempat bersarang hewan berbisa, sehingga banyak orang menebang rumpun bambu yang tumbuh di sekitar tempat tinggal mereka.
Bambu, tanpa disadari sering dianggap material murah, tak ubahnya seperti rumput liar. Lambat laun, banyak jenis bambu terkikis dan kritis karena habitatnya rusak oleh berbagai faktor.
Diantara beragam jenis bambu liar yang tumbuh kritis di pekarangan, kebun campuran hingga tebing-tebing di pinggir hutan, kita dapat menjumpai jenis-jenis endemik.
Salah satunya, yaitu Schizostachyum caudatum Backer Ex Heyne (Gambar 1), bambu endemik asal kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat.
| Kadisdikbud Lampung Apresiasi Prestasi Siswa Baitul Jannah Islamic School di Hari Kartini |
|
|---|
| Prestasi Gemilang! Prodi Ilmu Komunikasi UBL Sabet Akreditasi Unggul |
|
|---|
| Komposisi Baru Pejabat Struktural STKIP PGRI Bandar Lampung Periode 2026–2030, Ini Daftar Namanya |
|
|---|
| Jalani Ramadan di Tengah Musim Dingin Moskow, Dosen UBL Ini Rasakan Makna Baru Puasa |
|
|---|
| Mahasiswa UBL Borong Prestasi di Ajang Internasional Desain Arsitektur di Jepang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Mahasiswa-Universitas-Brawijaya-dok.jpg)