Pertamina: Penggunaan Elpiji 3 Kg oleh Petani Picu Kelangkaan

Selain itu, Lampung Selatan adalah areal sawah tadah hujan. Saat musim kemarau, petani harus menyedot air guna mengairi sawahnya.

Penulis: Dedi Sutomo | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribun Lampung/Dedi Sutomo
Sales Manajer Bidang Gas Pertamina Lampung Widi Hidayat dalam rapat bersama Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, Kamis, 30 Agustus 2018. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Dedi Sutomo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KALIANDA – Pemanfaatan gas elpiji 3 kilogram oleh petani sebagai bahan bakar mesin penyedot air cukup memengaruhi ketersediaan di masyarakat. Hal itu berimbas pada terjadinya kelangkaan dan meningkatnya harga gas elpiji 3 kilogram.

“Pemanfaatan untuk sektor pertanian ini pengaruhnya cukup besar. Karena setiap hari petani bisa menghabiskan 2-3 tabung untuk mesin penyedot air yang dihidupkan secara terus-menerus,” kata Sales Manager Bidang Gas  Pertamina Wilayah Lampung Widi Hidayat sesuai mengikuti rapat di ruang Asisten II Bidang Ekobang Setkab Lampung Selatan, Kamis, 30 Agustus 2018.

Menurut Widi, banyaknya petani yang beralih ke gas ini karena secara ekonomi pemanfaatan gas lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan pemanfaatan solar dan premiun.

Selain itu, Lampung Selatan adalah areal sawah tadah hujan. Saat musim kemarau, petani harus menyedot air guna mengairi sawahnya.

Pertamina, kata Widi, telah melakukan operasi pasar gas elpiji 3 kilogram di sejumlah kecamatan. Penambahan kuota juga sudah dilakukan.

Baca: Pertamina Lampung Sebut Kelangkaan Elpiji 3 Kg Siklus Tahunan

Tetapi, ini bukanlah solusi berkelanjutan yang tepat. Ke depan, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan perlu mengusulkan adanya alokasi khusus gas untuk sektor pertanian. Ini telah dilakukan untuk nelayan yang sudah memiliki alokasi khusus.

“Kita berharap dengan adanya fakta petani menggunakan gas untuk kebutuhan pertanian bisa diusulkan adanya kuota khusus untuk para petani ini,” kata Widi.

Sedangkan pemanfaatan oleh rumah makan juga diakuinya turut memberi pengaruh pada pasokan gas elpiji 3 kilogram kepada masyarakat. Namun untuk di Lampung Selatan dampaknya tidak sebesar seperti di Bandar Lampung.

Untuk pengendalian, imbuhnya, telah ada aturan persentase penjualan oleh pangkalan dan juga agen. Dimana pangkalan harus menjual 50 persen langsung kepada rumah tangga. Baru kemudian untuk usaha mikro dan pengecer.

“Jika ada pangkalan yang melanggar ketentuan ini, mereka bisa dikenai sanksi penutupan,” tandas Widi.

Pertamina Lampung menjamin pasokan gas elpiji di Bumi Ruwa Jurai aman.

Bahkan, seandainya ada kejadian force major, stok gas elpiji di Lampung cukup untuk 8-9 hari ke depan. Karena Lampung memiliki depo gas elpiji sendiri.

Baca: Disperindag Lampung Selatan: Elpiji 3 Kg Langka karena Ada Pengalihan Pemanfaatan

Ini dikatakan oleh Sales Manajer Bidang Gas Pertamina Lampung Widi Hidayat dalam rapat bersama Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, Kamis, 30 Agustus 2018.

“Dan khusus untuk Lampung Selatan sendiri secara suplai aman. Karena ada empat pengisian dengan jumlah agen mencapai 16 dan pangkalan mencapai 400,” kata dia.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved