Tribun Bandar Lampung

Menengok Kampung Belajar D'lima yang Dikelola Santri - Ada Wahana Edukasi Sambil Bermain

Tempat ini diberi nama Kampung Belajar D'lima. Lokasinya di tengah permukiman padat penduduk.

Menengok Kampung Belajar D'lima yang Dikelola Santri - Ada Wahana Edukasi Sambil Bermain
Tribun Lampung
Anak-anak bermain rakit di kolam Kampung Belajar D'lima, Bandar Lampung, Rabu (28/11/2018). 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG DANIEL TRI HARDANTO

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Tempat ini diberi nama Kampung Belajar D'lima. Lokasinya di tengah permukiman padat penduduk, tepatnya di Jalan Untung Surapati, Gang Tanjung, Kelurahan Labuhan Ratu, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung.

Di Kampung Belajar D'lima, terdapat berbagai fasilitas untuk mendapatkan wawasan dan pengalaman yang tidak ada di bangku sekolah formal. Kampung belajar ini diperuntukkan bagi anak-anak mulai dari tingkat taman kanak-kanak, SD, hingga SMP, termasuk pelajar SMA dan mahasiswa.

Di sini, anak-anak diajarkan mandiri, sekaligus lebih bersosialisasi dengan sebayanya. Anak-anak juga diedukasi untuk lebih menghargai alam dan lingkungan.

Semua itu bisa diperoleh melalui permainan berbasis edukasi yang diberi nama unik. Sebut saja moving bomb (memindahkan bom), bambu gundu, pipa bocor, tarkot alias tarzan kota, bermain rakit, menangkap ikan, hingga memberi makan kelinci. Anak-anak juga bisa belajar bercocok tanam di tempat ini hingga mempelajari anatomi ikan.

Syahri, pengelola Kampung Belajar D'lima, menuturkan, pihaknya juga memberi edukasi kepada anak-anak untuk belajar berwirausaha.

"Kami memperkenalkan anal-anak untuk belajar enterpreneurship. Seperti membuat telur asin, mengolah koran bekas jadi kerajinan, membuat minyak sereh, dan lainnya," kata Syahri kepada Tribun Lampung, Minggu (25/11/2018).

Menariknya lagi, di Kampung Belajar D'lima, anak-anak bisa memainkan beberapa permainan tradisional yang sudah mulai punah. Seperti gobak sodor, petak umpet, bentengan, sandal batok, layang-layang, gasing, mobilan dari bambu, dan lainnya.

Syahri pun menjelaskan alasannya menghadirkan kembali permainan tradisional itu.

"Anak-anak sekarang kan kenalnya cuma main game di HP (ponsel). Akhirnya, mereka jadi malas bergerak, berolahraga. Itulah makanya kami perkenalkan kembali permainan kampung ini," beber santri jebolan Pondok Pesantren Baitul Hamdi Pandeglang, Jawa Barat, itu.

Halaman
123
Penulis: Daniel Tri Hardanto
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved