Gunung Anak Krakatau Alami Gempa Tremor Menerus

Dalam dua hari terakhir, Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami gempa mikro tremor (tremor menerus).

Gunung Anak Krakatau Alami Gempa Tremor Menerus
Tribunlampung.co.id
Suwarno, petugas pos pantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID,KALIANDA - Dalam dua hari terakhir, Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami gempa mikro tremor (tremor menerus). Sabtu (16/2/2019) pagi, tercatat gempa tremor menerus dengan amplitudo 1-10 mm (dominan 1 mm).

"Juga tercatat ada gempa vulkanik dalam sebanyak 2 kali dengan amplitudo 13 mm, S-P: 1,1 - 1,3 detik dan durasi 7 - 8 detik," kata Suwarno, petugas pos pantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Sedangkan pada malam tercatat ada gempa vulkanik dalam sebanyak 60 kali dengan amplitudo 10-17 mm, S-P : 0,5 - 8 detik dan durasi 0,4 - 12 detik.

Juga tercatat adanya gempa non harmonik 1 kali dengan amplitudo 16 mm dan durasi 165 detik.

Suwarno mengatakan adanya gempa tremor menerus (mikrotremor) kemungkinan karena terbukanya celah energi yang mendorong ke atas.

Tetapi untuk pemantauan secara visual ke GAK terhalang kabut. Sehingga tidak teramati adanya asap kawah.

"Gunung tidak bisa terlihat karena tertutup kabut dan mendung. Sehingga tidak teramati apakah ada asap kawah," terang Suwarno.

Cara Transfer Pulsa Telkomsel Pakai MyTelkomsel ke Pengguna Kartu Simpati, Kartu As, Loop

Sampai saat ini status GAK masih pada level III Siaga.

Para pengunjung dan juga nelayan dilarang mendekati gunung api yang ada di selat Sunda itu pada radius 5 kilometer.

Gunung Anak Krakatau (GAK) pada akhir tahun 2018 lalu mengalami erupsi besar yang memicu terjadinya tsunami selat Sunda pada 22 Desember yang meluluhlantahkan pesisir Lampung Selatan dan Banten.

Pasca mengalami erupsi besar, GAK mengalami perubahan bentuk fisik.

Saat ini ketinggian gunung api yang tumbuh kembali di kaldera induknya yang meletus pada 1883 silam itu tinggal 110 mdpl (meter dari permukaan laut).

Sebelum erupsi besar, ketinggian GAK mencapai 338 mdpl.

Erupsi besar yang membuat sebagian besar badan gunung longsor ke laut inilah yang menjadi pemicu terjadinya tsunami selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu.

Penulis: Dedi Sutomo
Editor: wakos reza gautama
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved