Ucap Sumpah Janji Wiwaha di Tanggal Cantik
Di depan altar Buddha yang suci, saya mengambilmu sebagai istri saya, dan saya berjanji untuk selalu setia, mencintai dan menghormatimu seumur hidup.
Itulah sepenggal bunyi sumpah janji Willyam kepada Yuliana, sang mempelai wanita, dalam pernikahan secara agama Budha (wiwaha) di Vihara Bodhisattva Telukbetung, Bandar Lampung.
Willyam Teja dan Yuliana Gunawan adalah salah satu dari sekian banyak pasangan di dunia yang memilih 11 November 2011 atau tepatnya 11/11/11 pukul 11.11 WIB, sebagai hari bersejarah dalam hidup mereka.
Rona bahagia kedua mempelai seolah tak ingin luput sedari awal mereka memasuki ruangan Bhaktisala. Ritual demi ritual dilaksanakan secara tertib oleh keduanya.
Sebelum meneguhkan janji pernikahan, tata cara perkawinan yang mereka gelar secara agama Budha diawali dengan pemberian hormat kepada sang Budha, penyalaan lilin panca warna, pemanjatan paritta-paritta suci, lalu pembacaan doa Namakara Gatha.
Kemudian prosesi wiwaha yang dipandu langsung pemimpin upacara, Romo Pandita ini, dilanjutkan dengan pembacaan tugas-tugas suami dan istri, pernyataan orang tua dan janji calon mempelai, hingga pengucapan lima sila (Panca Sila Buddhis) oleh kedua mempelai sembari berlutut di depan altar Namaskara.
Usai melalui rangkaian acara itu, prosesi puncak dimulai. Kedua mempelai diwajibkan melakukan ritual unik dalam tata cara perkawinan Buddhis, yaitu pemasangan cincin pernikahan diikuti pengikatan pita kuning pada tangan mempelai.
Usai mengikatkan pita kuning, prosesi dilanjutkan pengerudungan kain kuning dengan diiringi pemercikan air suci/paritta oleh anggota Sangha. Pengerudungan kain kuning ini diartikan bahwa sejak saat itu kedua pribadi yang menikah telah dipersatukan. Badan mereka dapat berbeda, namun diharapkan batin bersatu dan bersepakat untuk mencapai kebahagiaan rumah tangga.
Sedangkan pemercikan air paritta melambangkan air yang dapat membersihkan kotoran badan maupun barang, maka demikian pula dengan pengertian Buddha Dhamma yang dimiliki diharapkan bisa membersihkan pikiran kedua mempelai dari pikiran-pikiran negatif terhadap pasangan hidupnya.
Setelah melaksanakan pelepasan pita dan kain kuning, sembah sujud kedua mempelai kepada kedua orang tua, serta penandatanganan surat pernikahan, prosesi wiwaha Budhis pun selesai dan ditutup dengan Gita Namaskara.
Selain mudah diingat, Willyam dan Yuliana berharap angka satu bisa menjadi awal penyatuan jiwa dan raga mereka dalam membentuk rumah tangga yang diberkati Sang Hyang Adi Budha. Selamanya. (siti nuryani)