Cerita 'Tergusurnya' 10 Bioskop di Bandar Lampung
PADA tahun 1970-1990-an, Bandar Lampung merupakan surga bagi penikmat film. Pada masa itu ada sekitar 10 bioskop.

"Zaman itu jelas tidak bisa disamakan dengan sekarang. Ketika itu bioskop dah kayak berjejer, tinggal pilih mau menonton di mana," jelas Supriyatin (54), seorang penghobi film, Jumat (11/5/2012)
Supriyatin pun menyebutkan nama-nama bioskop, semisal, Bioskop Apsara di Jalan Agus Salim, Bioskop Rajawali di Jalan ZA Pagar Alam, Bioskop Sinar di Jalan Pangeran Antasari. Ada lagi bioskop Cahaya di Jalan Ki Maja, Bioskop King, yang saat ini menjadi Gedung Juang 45.
Belum lagai Bioskop Bambu Kuning yang kini menjadi pusat perbelanjaan. Lalu Bioskop Bumijaya yang terletak di kawasan Jalan Raden Intan, dan Bioskop Kadora yang terletak di Jalan Teuku Umar.
"Dan yang paling ramai kala itu adalah Bioskop Raya yang bersebelahan (adu belakang) dengan Bioskop Sederhana di Pasar Bawah. Sekarang lokasinya jadi Ramayana itu," ujar bapak tiga anak itu. Masih ada lagi bioskop di bilangan Telukbetung yang dimiliki keluarga keturunan, yaitu Bioskop Kim, Queen, dan Panorama. Sedangkan untuk di luar itu masih ada lagi dua bioskop di Kemiling.
Pada masa itu, penonton film di bioskop selalu membeludak. "(Bioskop) Raya dan Sederhana kalau malam minggu, selalu berubah menjadi pasar malam mendadak. Semua orang berebut tiket, bahkan bagi yang nggak dapet di loket di masa itu sudah ada calo yang bisa bantu kita dapatkan tiket," ujar Supriyatin.
Kala itu, ingat dia, tiket termurah adalah di Bioskop Sederhana yaitu Rp 1.500. Sedangkan bioskop lainnya seperti Raya menetapkan harga Rp 2.000. "Itu mengapa Sederhana menjadi favorit kalangan menengah kebawah. Harga yang relatif murah selalu menjadi daya pikat tersendiri," kisahnya.
Film aksi seperti Si Buta dari Gua Hantu, drama musikal khas Rhoma Irama Gitar Tua, atau Pat Guli Pat, yang dibintangi Elya Khadam selalu mendapatkan tempat bagi penonton. "Saa itu bioskop adalah salah satu hiburan yang dapat dinikmati masayarakat selain layar tancap pastinya. Sebab, warga yang memiliki televisi, terbilang sangat jarang," ceritanya.
Namun keberadaan bioskop, sambung warga Kedaton ini, tidak berusia abadi. Gencarnya pembangunan yang dilakukan pemerintah pada taun 1990-an, membuat satu persatu bioskop harus gulung tikar. Hal ini pun diperparah dengan hadirnya stasiun televisi swasta yang ramaikan industri layar kaca.
"Munculnya stasiun televisi baru, pembangunan, dan yang tidak bisa dielakkan adalah munculnya teknologi VCD menjadi penggusur bioskop. Alternatif hiburan baru ini sedikit demi sedikit mengancam, hingga yang terakhir yang terus berusaha bertahan adalah Bambu Kuning itu dengan film-film lawas yang selalu diputar," tukasnya.
Hingga seiring jalannya waktu, bisnis bioskop ini hanya dikuasai oleh grup 21, yang kini akrab dikenal dengan Cinema 21. "Mereka unggul karena mampu memutar semua film-film yang tergolong baru. Selain itu, dengan harga yang relatif mahal mereka memberikan pakem sendiri atas arti sebuah bioskop nyaman," urainya.(heru)