Headline News Hari Ini
Lampung Penghasil dan Pengimpor Gula Pasir
Sungguh ironis. Sebagai salah satu daerah penghasil gula terbesar di Tanah Air, ternyata Lampung selama ini juga mengimpor gula pasir.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG- Sungguh ironis. Sebagai salah satu daerah penghasil gula terbesar di Tanah Air, ternyata Lampung selama ini juga mengimpor gula pasir.
Padahal, pada 2013 lalu Lampung menyumbang sekitar 550 ribu ton. Sementara kebutuhan gula nasional di kisaran 2,5-3 juta ton per tahun.
Jumlah gula yang diimpor pun tak tanggung-tanggung. Pada 2013 lalu, Lampung mendatangkan 273 ribu ton gula pasir. Jika dinilai dengan uang, gula pasir sebanyak itu mencapai 118 juta dolar Amerika Serikat (AS).
Dengan nilai kurs dolar AS yang saat ini berkisar Rp 11.400, maka nilai impornya setara dengan Rp 134 miliar. Jika dihitung per kilogram, harga gula impor yang sebagian besar didatangkan dari Thailand dan Malaysia tersebut nilainya sebesar 0,43 dolar AS.
Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung tersebut merupakan angka impor gula Provinsi Lampung pada 2013. Sementara tahun ini, hingga triwulan I/2014, Lampung juga tercatat masih menjadi pengimpor gula pasir.
Pada triwulan I/2014, impor gula pasir di Lampung mencapai 134 ribu ton. Pengiriman gula tersebut dilakukan dalam tiga tahap, yakni satu kali pada Januari dan dua kali pada Maret.
Kepala Seksi Statistik Niaga dan Jasa BPS Lampung Eddy Prayitno menyebutkan, impor gula pasir pada Januari sebesar 52 ribu ton dan pada Maret 82 ribu ton.
"Pengimpornya berasal dari Thailand. Waktu pastinya tidak tercatat dalam data. Hanya ada bulannya. Pada Februari tidak ada impor gula pasir," tutur Eddy di ruang kerjanya, Rabu (7/5).
Pada Januari saja, nilai impor gula pasir ke Lampung mencapai 21,45 juta dolar AS. Angka tersebut meningkat pada bulan Maret sebesar 33,7 juta dolar AS.
Eddy menuturkan, harga rata-rata nilai impor gula sebesar 0,4 dolar AS per kg. "Kalau dirata-ratakan, sekitar Rp 4.400 per kg (apabila dengan kurs Rp 11 ribu per dolar AS). Tetapi, itu kan harga impornya. Kalau harga jual di pasaran bisa lebih tinggi lagi," terang Eddy.
selengkapnya baca Tribun Lampung edisi cetak hari ini.