Yang Terlupakan, Siapakah Pencipta Lambang Negara Garuda Pancasila?

Lambang negara yang begitu penting, kok, terlupakan, tidak menjadi pertanyaan publik dan diterima apa adanya.

Tayang:
Kompas/Bambang Sigap Sumantri
Nanang Rakhmat Hidayat, pemburu burung Garuda Pancasila. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Diskusi mencari siapa pencipta lambang negara memang menarik. Hari Dendi, yang selama ini mengasuh Forum Budaya Yogya Semesta, beberapa waktu lalu menggelar sarasehan dengan tema tersebut. Hari antara lain mengutip pendapat sejarawan Asvi Warman Adam.

Menurut sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam, ada empat pihak yang berjasa dalam membuat lambang negara yang berasal dari gambar burung pada candi yang ada di Nusantara. Pertama adalah Panitia Lencana Negara, yang dibentuk 10 Januari 1950 di bawah koordinasi Menteri Negara zonder Portofolio, Sultan Hamid II.

Panitia teknis terdiri dari: Mohammad Yamin sebagai Ketua, Ki Hajar Dewantara, MA Pellaupessy, M Natsir, dan RM Ng Poerbatjaraka sebagai anggota. Panitia bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara lewat sayembara untuk dipilih pemerintah.

Pelukis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Basuki Resobowo, mengaku menang dalam sayembara tersebut. Jadi, kelompok kedua yang mengklaim adalah peserta sayembara, yang salah satunya Basuki Resobowo. Dalam usulan awal, lambang itu tercantum kata Republik Indonesia Serikat pada lingkaran sekeliling burung garuda.

Pihak ketiga tentulah Presiden Soekarno, yang menilai dan memutuskan pada tahap akhir gambar yang dipilih sebagai lambang negara. Kelompok keempat adalah pelukis yang dimintai bantuan sebagai konsultan oleh Presiden, yakni D Ruhr Jr dan pelukis istana, Doellah, yang menggambar kembali lambang tersebut sebagaimana diminta Soekarno.

Nanang Rakhmat Hidayat, dosen yang mengajar di Jurusan Televisi Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia, mungkin ingin lebih maju lagi daripada pakar sosial yang selama ini meneliti lambang garuda Pancasila. Ia juga menemukan tesis Turiman, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Indonesia, program studi Ilmu Hukum dan Kehidupan Kenegaraan yang membuktikan, Sultan Hamid II adalah perancang gambar lambang negara .

Akan tetapi, di beberapa situs internet, muncul nama Basuki Resobowo, seorang murid Taman Siswa, seniman serba bisa yang juga diakui sementara pihak sebagai perancang lambang negara Indonesia. Basuki pernah bergabung dalam seniman Indonesia Muda hingga akhirnya menjadi pengurus Lekra.

"Saya benar-benar penasaran, penjahit bendera merah putih kita tahu, pencipta lagu Indonesia Raya semua sudah paham, lambang negara yang begitu penting, kok, terlupakan, tidak menjadi pertanyaan publik dan diterima apa adanya," ujar Nanang.

Nanang memulai perburuan lambang garuda Pancasila tahun 2003. Dari sekadar iseng lantas menjadi hobi yang serius. Kalau ada lambang garuda Pancasila, diabadikan dengan kamera.

Dari satu desa ke desa lain di sekitar Yogyakarta, dan akhirnya ke mana-mana, seperti Klaten, Magelang, Jepara, Malang, Mojokerto hingga Manado. Lama kelamaan muncul pertanyaan, ini siapa penciptanya.

Ia dua kali sebagai mahasiswa baru (jurusan minyak 3 tahun dan desain interior), dua kali memperoleh penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). "Saya masih ingat dalam pembahasan Pancasila tak pernah ada penjelasan siapa pencipta lambang negara," kenang Nanang.

Nanang awalnya mencari foto-foto untuk pameran nasional di Jakarta. "Dalam waktu seminggu, saya menemukan 26 spesies, saya menyebut spesies karena bentuk garuda lucu-lucu. Di pigura lalu saya pamerkan, responsnya banyak. Apalagi waktu itu pigura saya buat tiga dimensi, di dalamnya saya kasih walkman, tape kecil, kasetnya saya olor-olor gitu, lagunya Garuda Pancasila, jadi lagunya ikut distorsi, supaya pas untuk ilustrasi foto-foto Garuda Pancasila yang berantakan", katanya.

Lama kelamaan Nanang jadi ketagihan dan dia salurkan menjadi tesis S-2 yang akhirnya dibukukan dengan judul "Mencari Telur Garuda". Respons berdatangan dari mana-mana. Nanang pernah diundang ke Museum Kongres Asia Afrika di Bandung untuk membuat seminar ulang tahun lambang negara tersebut pada 2010 dan juga pameran selama empat bulan.

Melalui internet, ia kini juga membuat blog museum rumah garuda dan aktif berkomunikasi lewat Facebook. Namanya kian identik dengan Nanang Garuda. Lambang burung garuda kini kadang tak usah dikejar, malahan datang sendiri.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved