Liputan Khusus Tribun Lampung
Atlet Pindah Daerah, Samsul Effendi Rela Gantian Pakai Sepatu
Fenomena atlet pindah daerah banyak terjadi di Indonesia. Begini kisah peraih medali Olimpiade yang tak pernah diajak gabung di daerah kelahirannya.
Penulis: Noval Andriansyah | Editor: Ridwan Hardiansyah
"Rata-rata itu masalahnya. Saat itu, cukup banyak atlet panjang dinding yang pergi dari Lampung," ujar Samsul, yang kini telah pensiun sebagai atlet.
Atlet Pindah Daerah Lebih Berprestasi
Selama menjadi atlet mewakili Lampung, Samsul mengaku tidak pernah mengikuti ajang PON.
Kondisi tersebut berubah saat ia mewakili Kaltim.
Ia mengikuti dua PON. Dan di kedua ajang tersebut, ia mampu meraih medali perunggu.
"Karena fasilitas yang terjamin, kesejahteraan juga cukup terjamin. Saat fasilitas minim, motivasi atlet untuk berkembang juga menjadi hilang," kata Samsul.
Hal serupa dialami Ade Bagus.
Ia sempat membela Lampung pada PON Sumatera Selatan 2004, namun tak berhasil meraih medali.
Pada PON Kaltim 2008, Ade kembali berlaga.
Saat itu, ia sudah "berbaju" Kaltim, dan sukses mengantongi medali emas.
"Untuk pembinaan sebenarnya tidak ada perbedaan antara Lampung dan Kaltim. Tetapi dari segi fasilitas, Kaltim lebih baik dan lebih lengkap," terang Ade.
Sementara, prestasi yang dicatat Eko Yuli Irawan pun sangat menjulang.
Tak hanya sukses di ajang nasional, Eko Yuli Irawan juga berprestasi di ajang internasional tertinggi, yaitu Olimpiade.
Eko tercatat pernah meraih medali perunggu pada Olimpiade Beijing 2008 dan Olimpiade London 2012.
Pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Eko Yuli Irawan berhasil membawa pulang medali perak.
Dari segudang prestasi yang telah dicapai, Eko mengaku, ia masih memiliki keinginan untuk bisa meraih medali mewakili Lampung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/atlet-pindah-daerah_20171209_220014.jpg)