Liputan Khusus Tribun Lampung

Atlet Pindah Daerah, Samsul Effendi Rela Gantian Pakai Sepatu

Fenomena atlet pindah daerah banyak terjadi di Indonesia. Begini kisah peraih medali Olimpiade yang tak pernah diajak gabung di daerah kelahirannya.

Tayang:
Penulis: Noval Andriansyah | Editor: Ridwan Hardiansyah
Rio2016
Ekspresi Eko Yuli Irawan setelah gagal mengangkat beban di Olimpiade 2016. 

"Tidak bisa dimungkiri, alasannya (pindah provinsi) karena tawaran penghasilan yang tinggi," kata Eko.

Baca: Piyama buat Hangout Jadi Tren Milenial Lampung

Baca: Difoto Tanpa Busana, Para Gadis Ini Ajak Fotografer

Berbeda dengan Eko, mantan atlet karate, Ade Bagus memutuskan pindah ke Kalimantan Timur (Kaltim), saat masih aktif menjadi atlet mewakili Lampung.

Ade pindah ke Kaltim pada 2005.

"Saya tidak munafik. Jaminan kesejahteraan dan iming-iming hari tua yang layak, jadi alasan saya pindah ke Kalimantan," terang Ade.

Ketika pindah, Ade mengatakan, Pemprov Kaltim langsung mengangkat dirinya sebagai PNS di dinas pemuda dan olahraga.

Sehingga, ia merasa memiliki jaminan masa tua ketika kemudian ia pensiun sebagai atlet.

"Saya sekarang sudah pensiun tetapi tetap menjadi melatih," tutur Ade.

Sebelum Ade, kepindahan ke Kaltim lebih dulu dilakukan Samsul Effendi, saat masih membela Lampung di cabang olahraga (cabor) panjat dinding pada medio 1990-an.

Samsul mengaku pindah karena keterbatasan fasilitas berlatih di Lampung.

Baca: Sambung Bulu Mata Agar Tak Repot Dandan, Muli Lampura Ini Pilih Model Doll Eyes

Baca: Kemacetan di Bandar Lampung Terancam Semakin Parah

"Kadang atletnya ada berapa, fasilitasnya dikasih berapa. Misalnya, ada atlet 10, dapat jatah sepatu hanya 5 pasang. Akhirnya, pakai gantian," jelas Samsul.

Selain itu, Samsul menuturkan, dana yang diberikan pun tidak transparan, antara lain uang transportasi dan bonus bagi atlet berprestasi.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved