Hebat, Anak Tukang Becak Ini Akan Kuliah Doktoral di Inggris

Sebelumnya, Raeni juga mendapatkan beasiswa S2 di University of Birmingham dan lulus pada Desember 2016 lalu.

Humas Unnes
Raeni menuju Auditorium Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah, Selasa (10/6/2014), diantar sang ayah, Mugiyono, dengan becak yang menjadi sumber nafkah keluarga mereka. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, SEMARANG – Masih ingat pada Raeni (25)? Anak tukang becak yang menjadi wisudawan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada 2014 itu, kini sedang mempersiapkan keberangkatan untuk kuliah doktoral di University of Birmingham, Inggris.

Nama Raeni mendadak terkenal setelah diantar ayahnya, Mugiono, menggunakan becak saat menghadiri wisuda di Unnes. "Alhamdulillah, tanggal 19 Januari kemarin baru pengumuman saya mendapatkan beasiswa LPDP, dan bila tidak ada halangan akan berangkat ke Birmingham pada September tahun ini," ujar Raeni.

Sebelumnya, Raeni juga mendapatkan beasiswa S2 di University of Birmingham dan lulus pada Desember 2016 lalu. Sekolah setinggi mungkin bagi Raeni adalah bekal menghadapi tantangan di masa depan.

Seperti halnya investasi, terdapat bekal yang harus ditanamkan untuk menghasilkan something in return yang optimal. Apalagi, sejak 1 Januari 2017 Raeni tercatat sebagai dosen di Jurusan Pendidikan Ekonomi konsentrasi Pendidikan Akuntansi Unnes.

Raeni menyadari, bekal riset sangat ia butuhkan untuk mewujudkannya salah satunya melalui studi S-3 tersebut.

Baca: Jadi Sarjana IPK 3,96, Raeni Diantar Ayah ke Wisuda Pakai Becak

Dalam proses pencarian kampus, awalnya Raeni mendaftar di beberapa kampus di beberapa negara. Akan tetapi, setelah berkonsultasi, berdiskusi, dan mendapatkan beberapa saran, akhirnya ia menyelesaikan aplikasi pendaftaran di University of Birmingham, tempatnya studi S2.

Raeni dan kedua orangtuanya menunaikan ibadah umrah pada Februari lalu.
Raeni dan kedua orangtuanya menunaikan ibadah umrah pada Februari lalu. (Dokumentasi pribadi)

Kalau ditanya apakah mendapatkan profesor yang sama saat menyelesaikan tesisnya selama S-2, jawabannya adalah tidak. Karena saat S-2, profesor Raeni berasal dari kampus lain.

Oleh karena itu, Raeni harus melewati proses wawancara dengan calon profesor dan program director S-3 hingga akhirnya mendapatkan unconditional offer letter. Perjalanannya mencari beasiswa juga tidak mulus.

"Awalnya saya dinominasikan dalam shortlist beasiswa dari kampus, namun untuk international Student tidak meng-cover semua biaya. Jadi saya menyampaikan ke kampus bahwa saya tidak bisa menerima hanya partically funded," ujarnya.

Selanjutnya ia mencoba mendaftar Beasiswa Unggulan Dikti dan LPDP, yaitu beasiswa untuk dosen. Namun, Raeni terkendala belum mempunyai Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN). Raeni saat itu masih mempunyai Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) yang membuatnya tidak bisa mendaftar.

Baca: Mahasiswi Lampung Juarai Lomba Desain Internasional di Jepang

"Lalu saya mendaftar beasiswa lanjutan LPDP, awalnya belum diterima karena ada salah satu persyarakat yang belum memenuhi. Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan untuk mendaftar lagi pada periode berikutnya dan lolos untuk direkomendasikan sebagai penerima beasiswa lanjutan dari magister ke doktoral LPDP,” papar Raeni.

Dalam persiapan menyambut keberangkatannya ke Inggris pada September nanti, Raeni banyak membaca jurnal yang berhubungan dengan bidang studinya. Namun, dia juga tidak melupakan quality time bersama keluarganya.

Pada pertengahan Februari lalu, Raeni pergi umrah bersama kedua orangtuanya. Bapaknya kini tidak lagi menarik becak, melainkan menjadi penjaga malam dan mengantar-jemput salah satu putri mantan bupati Kendal berangkat ke sekolah.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved