Sindrom Stockholm, Tatkala Sandera "Jatuh Cinta" dengan Penculiknya

Banyak orang mengetahui frasa "Sindrom Stockholm" dari beberapa kasus penculikan dan penyekapan.

Tayang:
Editor: Yoso Muliawan
Dok National Geographic
Ilustrasi Penculikan 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Banyak orang mengetahui frasa "Sindrom Stockholm" dari beberapa kasus penculikan dan penyekapan yang melibatkan perempuan.

Sindrom ini paling sering dikaitkan dengan Patty Hearst.

Ia adalah putri pemilik koran di California, Amerika Serikat.

Patty diculik oleh kelompok militan pendukung revolusi pada tahun 1974.

Ia kemudian diketahui memiliki simpati kepada penculiknya.

Bahkan, Patty bergabung secara sukarela dengan penculiknya dalam kasus perampokan.

Patty akhirnya ditangkap dan diganjar hukuman penjara atas tindakannya tersebut.

Meskipun begitu, pengacara Patty, Bailey, menyatakan bahwa otak gadis berusia 19 tahun itu telah dicuci oleh penculiknya.

Sang pengacara juga menjelaskan, Patty mengalami sindrom Stockholm.

Itu adalah istilah yang diciptakan untuk menggambarkan perasaan tidak masuk akal tawanan atau sandera terhadap penculik mereka.

Sindrom ini muncul kembali ketika media melaporkan kasus Natascha Kampusch.

Natasha diculik saat ia berusia 10 tahun oleh Wolfgang Priklopil. Ia disekap selama delapan tahun.

Bukannya benci dengan penculiknya, Natasha justru menangis ketika ia mendengar kabar Wolfgang meninggal.

Ia bahkan menyalakan lilin untuk Wolfgang yang terbujur kaku di kamar mayat.

Sementara itu, warga Swedia mengetahui ada empat orang yang mengalami sindrom Stockholm.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved