Sindrom Stockholm, Tatkala Sandera "Jatuh Cinta" dengan Penculiknya

Banyak orang mengetahui frasa "Sindrom Stockholm" dari beberapa kasus penculikan dan penyekapan.

Tayang:
Editor: Yoso Muliawan
Dok National Geographic
Ilustrasi Penculikan 

Mereka adalah para karyawan bank Kreditbanken: Birgitta Lundblad, Elisabeth Oldgren, Kristin Ehnmark dan Sven Safstrom.

Pada 23 Agustus 1973, keempatnya menjadi sandera Jan-Erik Olsson, perampok bank Kreditbanken di Stockholm, Swedia.

Enam hari kemudian, ketika korban berhasil diselamatkan, terungkap fakta bahwa mereka menjalin hubungan positif dengan penyanderanya dalam kurun waktu tersebut.

Asal Mula Sindrom Stockholm

Sindrom Stockholm diciptakan oleh psikiater dan kriminolog Nils Bejerot.

Dokter Frank Ochberg, yang juga psikiater, tergelitik dengan fenomena ini.

Ia pun menjelaskan sindrom tersebut kepada FBI dan Scotland Yard pada tahun 1970-an.

Saat itu, Frank sedang membantu US National Task Force on Terrorism and Disorder merancang strategi untuk situasi penyanderaan.

Kriteria seseorang yang mengidap sindrom Stockholm meliputi hal berikut.

"Pertama, korban akan mengalami sesuatu yang menakutkan dan tak terduga untuk pertama kalinya. Mereka yakin akan mati," tutur Frank.

"Lalu, korban berada pada tahap infantilisasi, kondisi di mana mereka seperti anak-anak lagi: tidak bisa makan, berbicara, atau buang air tanpa izin penculiknya."

"Kebaikan kecil penculik, seperti memberi makanan, mendorong rasa syukur 'primitif': seolah mendapat kado kehidupan," sambung Frank.

Menurut Frank, inilah penyebab mengapa korban akhirnya memiliki perasaan "primitif" yang positif terhadap penculiknya.

"Mereka berada dalam penyangkalan. Menolak percaya bahwa orang ini yang membuat mereka menderita," kata Frank.

"Dalam pikiran korban, sang penyandera justru seseorang yang membuat mereka tetap hidup," imbuhnya.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved