Menikmati Gas Bumi ala Mbah Tumi

Para pelaku UMKM di Bandar Lampung memanfaatkan gas bumi sebagai energi utama. Apa saja keuntungannya?

Penulis: wakos reza gautama | Editor: wakos reza gautama
Tribun Lampung
Mba Tumirah saat menggiling bumbu pecel dagangannya 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Sebagai penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) nasional 60,3 persen, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dianggap sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Lalu bagaimana peran energi dalam membantu sektor ini tetap bertahan?

Hari sudah gelap, Tumirah duduk di kursi dengan mata mengatup. Kamis (14/12/2018) malam sekitar pukul 22.00 WIB, Tak ada satu pun pembeli tampak.

Jadilah janda berusia 85 tahun ini  membunuh kebosanan menunggu dengan tidur.

“Lagi sepi,” ujar wanita yang biasa disapa Mbah Tumi saat wartawan Tribun Lampung menyambanginya. Tumirah adalah penjual pecel dan gorengan.

Ia menggelar dagangannya di depan rumahnya di Jalan Ahmad Yani, Gang Pioner, Kelurahan Gotong Royong, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung.

Tak seperti pedagang pecel pada umumnya yang berjualan siang hari, Mbah Tumi mulai beroperasi ketika senja mulai tampak hingga larut malam.

Opick Nikah Lagi, Lihat Foto-foto Cantik Bebi Silvana. Jangan Kaget Saat Tahu Masa Lalunya

Usaha ini sudah ia lakoni sejak awal tahun 80an demi menghidupi lima anaknya.

Kini Mbah Tumi hanya menanggung biaya satu anaknya.

Anak-anak yang lain sudah berumahtangga sehingga tak lagi masuk tanggungannya. Modal yang ia pakai tidak banyak, hanya Rp 100 ribu.

Itu untuk membeli bahan baku seperti sayuran, terigu. Usahanya sangat tergantung pada alat produksi berupa kompor.

Sementara kompor membutuhkan bahan bakar energi. Sejak gas bumi masuk ke Bandar Lampung, Mbah Tumi menggunakannya.

“Lebih hemat pakai ini (gas bumi),” kata dia. Mbah Tumi menggunakan gas bumi sejak Mei 2018.

Tagihannya cukup terjangkau, tergantung pemakaian. “Saya bayar paling murah Rp 60 ribu. Paling mahal, Rp 160 ribu,” kata dia.

Dibandingkan sebelumnya ketika memakai gas melon 3 kg, biaya Mbah Tumi cukup tinggi.

Mbah Tumirah saat memasak dagangan di rumahnya di Jalan Ahmad Yani, Gang Pioner, Kelurahan Gotong Royong, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung.
Mbah Tumirah saat memasak dagangan di rumahnya di Jalan Ahmad Yani, Gang Pioner, Kelurahan Gotong Royong, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung. (Tribun Lampung)

Dalam sebulan Mbah Tumi menghabiskan 9-10 tabung gas melon. Satu gas melon harganya Rp 20 ribu.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved