PT KAI DIVRE IV

Ada 4 Titik Rawan Longsor Lintasan Kereta Api, Petugas PT KAI Kurangi Kecuraman Tebing

Empat titik rawan longsor terdapat di dekat lintasan rel kereta api ruas Stasiun Giham-Blambangan Umpu.

Ada 4 Titik Rawan Longsor Lintasan Kereta Api, Petugas PT KAI Kurangi Kecuraman Tebing
Tribunlampung.co.id/Eka Ahmad Sholichin
Manajemen PT KAI Divre IV Tanjungkarang memantau kondisi lintasan KA melalui CCTV di dalam kereta inspeksi di jalur KA ruas Stasiun Giham-Blambangan Umpu, Way Kanan, Kamis (28/2/2019). 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG EKA AHMAD SHOLICHIN

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Sebanyak empat titik rawan longsor terdapat di dekat lintasan rel kereta api ruas Stasiun Giham-Blambangan Umpu, Way Kanan. Ini berdasarkan hasil pengecekan manajemen PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional IV Tanjungkarang, Rabu-Kamis (27-28/2/2019).

"Empat titik rawan longsor lintasan KA itu antara lain di kilometer 164, 168, 170, dan 216. Dengan adanya temuan tersebut, kami langsung melakukan perbaikan dan penguatan lintasan rel," kata Kepala PT KAI Divre IV Tanjungkarang Sulthon Hasanudin, Kamis (28/2/2019).

Sulthon mencontohkan longsoran tanah di dekat jembatan di km 164.

"Pernah kejadian tanah longsor menimpa gerbong (KA) batubara. Untungnya waktu itu gerbongnya kosong. Ini jadi peringatan bagi kami supaya ada pembenahan," ujarnya.

Dalam proses pembenahan, jelas Sulthon, petugas mengurangi kecuraman tebing yang ada di sisi kanan dan kiri lintasan rel KA. Selain itu, petugas melakukan pencegahan agar air jangan sampai menggenangi rel. Sebab, hal itu bisa berakibat batu-batu balast atau batu kricak di area lintasan rel menjadi tidak dinamis.

"Dampak yang akan terasa adalah rel tidak saling mengikat. Begitu ada beban berat, rel bisa patah. Makanya kami benahi dengan cara mencuci batu balast agar hidup, sehingga mengikat lagi," papar Sulthon yang memimpin pengecekan lintasan KA dari Stasiun Giham hingga Stasiun Blambangan Umpu.

Adapun temuan lainnya dari hasil pengecekan, di antaranya pandrol-pandrol (penjepit rel) sudah tidak ada atau hilang. Kemudian, perlunya pergantian bantalan dari kayu di jembatan.

"Pandrol bisa lepas akibat goncangan. Dampaknya, rel bergeser dan bisa membahayakan kereta api. Solusinya, segera kami pasang lagi," kata Sulthon.

Selain itu, lanjut Sulthon, ada saluran di kanan dan kiri lintasan rel yang sudah tidak berfungsi. Dampaknya, air menggenang di kanan dan kiri rel.

Halaman
12
Penulis: Eka Ahmad Sholichin
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved