Tribun Lampung Selatan

Capten Nestorius Santule Rela Tak Berlebaran Bersama Keluarga Demi Antarkan Pemudik

Bagi Capten Nestorius Santule pelayanan mudik lebaran tahun ini bukanlah yang pertama baginya menjalankan tugas di lintasan penyeberangan selat Sunda.

Capten Nestorius Santule Rela Tak Berlebaran Bersama Keluarga Demi Antarkan Pemudik
Tribunlampung.co.id/Dedi
Capten Nestorius nahkoda kapal KMP Nusa Dharma 

Ia mengatakan sudah berkecimpung dipelayaran sejak tahun 1983. Sebelum bergabung dengan SP Ferry, dirinya sempat bekerja di kapal tangker pasca menamatkan pendidikan di sekolah pelayaran di Makasar.

Saat bekerja di di kapal tangker ini, ayah 3 orang anak ini berkeliling ke beberapa Negara Eropa seperti Yunani, Inggris, Belgia, Swedia. Ia juga menyinggahi beberapa Negara di Afrika seperti Maroko dan Libya.

“Dulu sewaktu di kapal tangker saya mualim 2 yang menyiapkan peta jalur pelayaran. Sempat juga ke beberapa Negara Eropa dan Afrika. Kalau ke Singapura dan Malaysia sudah biasa,” kata Nestorius kepada tribun.

Usai bekerja di kapal tangker, pria kelahiran Sulawesi Utara 60 tahun silam ini bergabung dengan SP Ferry untuk lintasan selat Sunda sejak tahun 1997 lalu. Sejak saat itulah dirinya, jarang bisa menikmati lebaran bersama keluarga.

Keluargaya yang tinggal di Serang, Banten pun sangat memahami tugasnya sebagai capten kapal. Bagi Nestorius bertugas saat pelayanan mudik lebaran memiliki kesan yang sangat mendalam.

Meski harus merelakan untuk tidak berkumpul dengan keluarga, tetapi ia menikmati dan senang bisa menghantarkan para pemudik untuk bisa berkumpul bersama dengan keluarganya di kampung halaman untuk berlebaran.

“Kita senang saat melihat para penumpang tersenyum karena mereka bisa berkumpul dengan keluarga mereka untuk menikmati lebaran bersama. Apalagi para penumpang ini kerap mengucapkan terimakasih kepada kita saat turun dari kapal. Ada sebuah kebanggan bisa menghantarkan para pemudik lebaran ini,” kata Nestorius.

Selama 20 tahun lebih melayani mudik lebaran dilintasan selat Sunda, ia kerap menjalankan sholat idul fitri di atas kapal bersama pemudik yang baru mudik tepat saat lebaran.

Tidak jarang keluarganya menyambangi dirinya di pelabuhan Merak saat mudik lebaran. Tetapi biasanya setelah lebaran ia mendapatkan waktu cuti yang digunakannya untuk berkumpul dan pulang kampung.

Nestorius mengatakan selama 22 tahun bertugas di penyeberangan pelabuhan Merak-Bakauheni, pada beberapa kesempatan lebaran dirinya menghadapi kondisi cuaca di selat Sunda yang cukup ekstrim.  Biasanya saat lebaran di akhir tahun, dimana biasanya bersamaan dengan musim penghujan.

Halaman
123
Penulis: Dedi Sutomo
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved