Tribun Metro

13 Hektare Jagung di Metro Utara Diserang Hama Ulat Grayak

Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Peternakan (DKP3) Kota Metro menemukan ulat grayak yang dikabarkan telah menyerang tanaman jagung

13 Hektare Jagung di Metro Utara Diserang Hama Ulat Grayak
ISITIMEWA
SERANG JAGUNG - Ulat grayak yang mulai menyerang tanaman jagung di Metro. Diperkirakan 13 hektare tanaman jagung, dengan umur bervariasi 5-10 hari hingga 50 hari milik petani Banjarsari Metro Utara telah diserang hama tersebut. 

13 Hektare Jagung di Metro Utara Diserang Hama Ulat Grayak

Laporan Reporter Tribun Lampung Indra Simanjuntak 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Peternakan (DKP3) Kota Metro menemukan ulat grayak yang dikabarkan telah menyerang tanaman jagung.

Kepala DKP3 Kota Metro Hery Wiratno, didampingi Kabid Penyuluh Pertanian Herman Susilo menjelaskan, ulat grayak atau army worm dikenal cukup ganas saat menyerang tanaman. Ulat dikabarkan baru musim ini masuk ke wilayah Bumi Sai Wawai.

"Temuan ini kita ketahui dari laporan petani di Metro Utara. Dan setelah kita cek ternyata betul. Umur tanaman yang diserang itu bervariasi," ujarnya, Selasa (25/6). Ulat dengan nama latin Spodoptera Frugiperda ini merupakan jenis baru.

400 Hektare Padi di Seputih Raman Terserang Hama Wereng

Kemunculannya teridentifikasi tahun 2018 dari India, Amerika Selatan, Thailand, dan masuk ke Sumatera Utara, Indonesia. "Biasanya menyerang tanaman jagung. Di Lampung sudah ada kasus di Pringsewu dan Lampung Timur," imbuhnya.

Herman menjelaskan, hama tersebut menyerang daun, batang, dan yang paling parah adalah titik tumbuh. Dimana pada titik tumbuh ada calon bunga. Jika dimakan tanaman akan rusak dan sudah tidak dapat memproduksi lagi.

Penyuluh pertanian Nursiyo mengatakan, dari yang terdata, ada 13 hektare tanaman jagung, dengan umur bervariasi 5-10 hari hingga 50 hari milik petani Banjarsari Metro Utara yang telah diserang ulat grayak.

Hama Ulat Serang Tanaman Jagung di Dua Kampung, Ini Langkah Pemkab Lampung Tengah

Sementara Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Slamet Santoro menambahkan, ulat adalah jenis baru di Kota Metro. "Kita lagi gencarnya mengadakan penelitian, tapi di lapangan ternyata sudah ada serangan," bebernya seraya mengaku ulat bisa menyerang kapan saja, mulai dari fase vegetatif sampai generatif.

Slamet menyarankan petani bisa menggunakan beberapa jenis pestisida pada tanaman umur 10 hari. Untuk tanaman umur di atas 30 hari, pihaknya belum ada rekomendasi.

Meski belum ada rekomendasi resmi, Slamet menilai, jika dilihat dari hidup ulat dengan memakan titik tumbuh, maka diperlukan pestisida yang sistemik untuk mengurangi serangan ulat.

"Kita rekomendasikan pestisida yang pernah digunakan untuk hama penggerek batang juga. Tapi kami belum bisa mengeluarkan rekomendasi resmi, karena masih dalam tahap studi dan penelitian. Tapi kita kan tidak boleh diam, karena populasi sudah banyak dan serangan sudah berat," ujarnya.

Sementara Kabid Penyuluhan Pertanian DKP3 Metro Herman Susilo menjelaskan, petani bisa memulai penerapan dari tanam biji dicampur pestisida sistemik karbofuran bahan aktif. Kemudian saat pemupukan dua minggu. Bisa dicampur sistemik, karena sistemik terserap tanaman, ketika telur menetas memakan tanaman yang mengandung pestisida. Sehingga ulat mati.

"Teknik penyemprotan juga harus teliti harus per batang. Tidak bisa seperti menyemprot padi. Kemudian ketika sudah umur hampir 40 hari bisa dimasukkan ke dalam titik tumbuh. Karena bentuknya butiran bisa dimasukkan setiap titik tumbuh. Jadi sejak awal harus sudah melakukan pencegahan dengan pestisida karbofuran," tuntasnya.(dra)

Penulis: Indra Simanjuntak
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved