Mencari Teman Tidur Satu Malam hingga Mendapatkan Jodoh, Aplikasi Ini Jadi Banyak Penggunanya
Membuat orang terkejut ia menemukan jodohnya di aplikasi Tinder. "Karena stigmanya Tinder dan aplikasi lainnya ini sekarang jadi sarana BO," katanya.
Penulis: Beni Yulianto | Editor: Teguh Prasetyo
Mereka bertemu setiap akhir pekan, hingga akhirnya di bulan ketiga memutuskan untuk berpacaran.
Keduanya bahkan langsung menghapus Tinder dari ponselnya karena tak butuh lagi mencari yang lain.
Mereka merasa sangat cocok dengan satu sama lain.
Setelah empat tahun menjalin hubungan, Nopian memberanikan diri mengajak Chika menikah.
Bagi Nopian yang butuh teman mengobrol namun lingkungan hidupnya sempit, Tinder sangat membantu.
Sayangnya, cerita ini jarang diceritakan Nopian ke orang-orang.
Ia merasa tak nyaman membuat orang terkejut ia menemukan jodohnya di aplikasi Tinder.
"Karena stigmanya Tinder dan aplikasi lainnya ini sekarang jadi sarana BO (booking order) gitu," kata dia.
Cari teman tidur
Ketika pertama diluncurkan pada 2012 oleh sekelompok mahasiswa University of Southern California, Tinder memang dibuat untuk membantu orang yang "iseng" mencari orang di luar jejaring sosialnya.
Setelah mendunia di medio 2013 hingga 2014, Tinder lebih banyak digunakan untuk mencari teman kencan kasual.
Ada yang menyebutnya one-night stand atau cinta satu malam.
Fitur pencarian berbasis jarak GPS ini yang memungkinkan kencan cepat dan singkat.
Tampilan dan cara kerja Tinder terbilang sederhana jika dibanding aplikasi atau situs kencan lainnya.
Misalnya, OKCupid, Tagged, atau eHarmony yang mengharuskan pengguna menyusun profil lengkap untuk menarik perhatian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/biro-jodoh-online.jpg)