Mencari Teman Tidur Satu Malam hingga Mendapatkan Jodoh, Aplikasi Ini Jadi Banyak Penggunanya

Membuat orang terkejut ia menemukan jodohnya di aplikasi Tinder. "Karena stigmanya Tinder dan aplikasi lainnya ini sekarang jadi sarana BO," katanya.

Tayang:
Penulis: Beni Yulianto | Editor: Teguh Prasetyo
kompas.com
Ilustrasi - maraknya aplikasi kencan, banyak cerita ajang pencarian jodoh saat ini. Mulai dari orang iseng, hingga bertemu jodoh di aplikasi kencan online. 

Di Tinder, foto adalah senjata utama.

Hanya butuh beberapa detik untuk menilai tampilan lewat foto lalu memutuskan lanjut atau tidak.

tinder image
tambilan tinder

Bagi Helmi (38) yang sudah satu dekade lebih mencari teman kencan lewat Tagged hingga Tinder, kemungkinan yang muncul dari aplikasi maupun situs kencan tidak terbatas.

Ia awalnya mengunduh aplikasi kencan untuk meramaikan ponselnya saja.

Namun kini, Helmi berpaling ke Tinder untuk mencari teman tidur.

"Ngobrol sama cewek udah ratusan ya. Kalau ketemu udah puluhan dari berbagai daerah. Bandung, Jakarta, paling banyak Bogor. Buat iseng-iseng berhadiah lah," katanya berkelakar.

Helmi mengatakan dulunya Tinder murni digunakan untuk mencari teman kencan.

Namun kini, banyak juga perempuan yang menjajakan "cinta". "Ada yang ‘jualan’, karena ada juga yang emang nyari. Pernah juga kok saya BO (booking order)," kata dia.

Jodoh ada di genggaman tangan Cap cinta satu malam itu boleh jadi tengah dihapus oleh Tinder.

Selama beberapa pekan terakhir, di berbagai sudut jalan Ibu Kota, di bioskop, media sosial, hingga televisi, muncul iklan Tinder.

Dengan tagar #CariJodohApaAja, Tinder menawarkan aplikasinya bagi yang ingin mencari kesamaan minat.

Mulai dari jodoh carpool karaoke, makan durian, silent disco, uji nyali, hingga mengejar ombak.

Pasalnya, Tinder tak akan berhasil mengepakkan sayapnya ke Indonesia dan seluruh Asia dengan citra aplikasi pencari teman tidur.

Budaya ketimuran dengan standar norma kesusilaan dan moral yang tinggi masih dijunjung di berbagai belahan Asia.

Tinder harus menyesuaikan aplilkasinya dengan budaya setempat.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved