Kementerian Agama 5 Tahun Lakukan Penelitian Terhadap Terjemahan Alquran, Ini Hasilnya

Minat masyarakat memahami Al-Qur’an dan terjemahnya semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Kementerian Agama 5 Tahun Lakukan Penelitian Terhadap Terjemahan Alquran, Ini Hasilnya
wartakota
Alquran raksasa di Masjid Raya Al Azhom, Kota Tangerang, Rabu (12/9/2018). (Foto arsip) 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Kementerian Agama membentuk tim untuk melakukan penyempurnaan terhadap terjemahan Alquran pada tahun 1998.

Perbaikan dan penyempurnaan terjemahan Alquran yang dilakukan selama lima tahun tersebut bersifat menyeluruh, meliputi aspek-aspek bahasa, konsistensi penerjemahan, dan transliterasi.

Tim ini bekerja dengan baik sehingga menghasilkan naskah “Alquran dan Terjemahnya Edisi Tahun 2002”.

Dari hasil penelitian tersebut diketahui ternyata minat masyarakat untuk memahami Alquran dan terjemahnya semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Berbagai kajian, kritik konstruktif, dan saran terhadap terjemahan Alquran dilakukan oleh masyarakat.

Hal tersebut disikapi arif oleh kementerian  untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan terhadap terjemahan Alquran yang bersifat menyeluruh, meliputi aspek-aspek bahasa, konsistensi penerjemahan, dan transliterasi.

Di samping itu, Mukadimah dan catatan kaki diminimalisasi, sehingga jumlah halaman berkurang jauh, dari 1294 halaman (dengan 1610 catatan kaki dan 172 halaman Mukadimah), dalam edisi 2002 menjadi 924 halaman (dengan 930 catatan kaki dan mukadimah dihilangkan).

Terjemahan Edisi 2002 juga menghilangkan judul-judul kecil kelompok ayat yang ada pada edisi terjemahan sebelumnya.

Perlunya ada revisi perbaikan terhadap terjemahan Alquran edisi 2002 juga diperkuat dari hasil konsultasi publik yang dilakukan oleh pihak Lajnah Pentashih Mushaf Alquran (LPMA) selama 2016 dan 2017 di Jakarta, Yogyakarta, Rembang, dan Bukittinggi.

Hasil konsultasi publik tersebut menegaskan bahwa masih beberapa masalah terkait terjemahan Alquran Kementerian Agama yang di antaranya tidak sensitif gender atau sangat bias gender, penggunaan diksi yang tidak tepat, serta metodologi penerjemahan yang masih dianggap rancu.

Halaman
1234
Penulis: Romi Rinando
Editor: wakos reza gautama
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved