VIDEO Kenali Penyebab dan Gejala Skizofrenia
Beberapa hari lalu ramai diberitakan anak Elvy Sukaesih bernama Haidar mengamuk di warung karena tidak diberi utang rokok.
Penulis: Wahyu Iskandar | Editor: Heribertus Sulis
"Misal dia berkata, itu ada api yang bergerak dan api itu melihat aku, atau ada suara yang bisik-bisik ditelinga aku. Padahal sebenarnya itu tidak ada. Hanya halusinasi dia saja. Halusinasi itu masuk gejala positif," ujar Octa
Gejala positif lain delusi yang mengarah sampai paranoid. Misal dia bilang, aku dilihat orang-orang terus sampai aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara gejala negatif, muncul perasaan apatis dan depresi.
Segera Bawa ke Rumah Sakit Jiwa
Jika memiliki anggota skizofrenia, harus peduli dengan dia, langsung lakukan pendekatan dan berbicara kepadanya.
Mungkin dia ingin bisa curhat mengenai apa yang dia rasakan atau alami. Sehingga harapannya, dia tidak langsung menjadi skizofrenia
Tapi kalau dia sudah tidak ada kontak dengan realita dan nama sendiri saja tidak tahu, paling cepat bawa dia ke rumah sakit jiwa. Disana penanganan lebih komprehensif, serta ada dokter jiwa dan psikolog.
Namun sayangnya, masih banyak yang berpendapat kalau ke rumah sakit jiwa itu membuat malu dan aib. Pendapat itu harus diubah. Masyarakat harus bisa menilai rumah sakit jiwa sebagai solusi kesehatan mental.
"Apalagi jika ada keluarga yang menderita skizofrenia. Anggota keluarga lain harus mengerti, kalau dia membutuhkan pengobatan di rumah sakit jiwa. Jadi bawa dia kesana. Jangan bawa ke psikolog, kecuali dia sudah dalam keadaan yang positif, sehingga psikolog bisa memberikan konseling dan psikoterapi," kata Octa.
Pengobatan memang tidak bisa menyembuhkan skizofrenia, artinya penderita skizofrenia akan terus hidup dengan skizofrenia. Meski tidak bisa sembuh namun bisa meminimalkan gejalanya. Sehingga penderita skizofrenia bisa hidup dengan positif.
(Tribunlampung.co.id/Jelita Dini Kinanti)
Videografer Tribunlampung.co.id/Wahyu Iskandar