Kecelakaan Maut di Lampung
Suara Tangis Pecah di Ruang Jenazah 2 Korban Kecelakaan Maut di Jalintim
Setelah mengidentifikasi jenazah tersebut, mereka langsung membawanya pulang ke Katibung untuk dimakamkan.
Penulis: syamsiralam | Editor: Daniel Tri Hardanto
Basar mengaku tak mempunyai firasat apa pun sebelum musibah yang menimpa putra bungsu dari empat bersaudara itu.
Basar mengatakan, malam sebelum kejadian, Asep Syarifudin hanya pamit dengan sang ibu.
"Saya sudah tidur waktu dia pamit. Kata ibunya, anak saya itu berangkat sekitar jam 12 (malam). Ibunya nggak punya firasat apa-apa. Dia (Asep) hanya minta tolong supaya didoakan selamat sampai tujuan," terang Basar.
Salah satu kerabat Asep Sudrajat, Jaroni, mengaku tahu kabar kecelakaan maut itu dari Facebook.
Saat itu, lanjut Jaroni, keluarga langsung tahu Asep Sudrajat meninggal dalam kecelakaan tersebut.
Setelah itu, barulah keluarga Asep Sudrajat berkoordinasi dengan keluarga Asep Syarifudin.
"Kami dari Prabumulih berangkat tadi malam terus ke Lampung Selatan. Kemudian bareng-bareng (dengan keluarga Asep Syarifudin) ke sini (Lampung Tengah)," kata dia.
Jenazah Asep Sudrajat akan dibawa ke kampung halamannya di Kelurahan Pangkul, Kecamatan Cambai, Prabumulih, Sumatera Selatan.
Kecelakaan di Jalintim Kampung Terbanggi Ilir, Kecamatan Bandar Mataram, Lampung Tengah melibatkan truk bermuatan batu bata dan pikap Gran Max, Selasa (22/10/2019).
Enam orang meninggal dunia dalam musibah itu.
• Truk Bawa 10 Penumpang Adu Kepala dengan Pikap Granmax, Mobil Terbakar hingga 6 Korban Tewas
Diduga, kecelakaan dikarenakan pikap dari arah Tulangbawang berjalan oleng dan masuk ke ruas berlawanan.
Dari arah Lampung Timur, melaju truk bermuatan batu bata yang juga membawa 11 penumpang.
Akibat benturan, pikap terbakar dan tertimpa truk.
Dua penumpang Gran Max tewas terpanggang di dalam mobil.
Sementara empat penumpang truk meninggal dunia karena terlempar dari bak dan sebagian turut terbakar. (Tribunlampung.co.id/Syamsir Alam)