Tribun Pesawaran

7 Desa di Pesawaran Terendam Banjir, Ketinggian Air hingga 2 Meter

Kepala BPBD Pesawaran Mustari mengungkapkan, banjir tersebut terjadi akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah Bumi Andan Jejama sejak Rabu kemarin.

Tayang:
Dokumentasi warga
7 Desa di Pesawaran Terendam Banjir, Ketinggian Air hingga 2 Meter 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PESAWARAN - Sebanyak tujuh desa di Kabupaten Pesawaran dilanda banjir, Kamis, 23 Januari 2020.

Kepala BPBD Pesawaran Mustari mengungkapkan, banjir tersebut terjadi akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah Bumi Andan Jejama sejak Rabu, 21 Januari 2020 sore.

"Banjir terjadi mulai Kamis dini hari, pukul 02.00 WIB," ungkap Mustari, Kamis, siang.

Dia mengungkapkan, ketinggian air yang merendam enam desa di Kabupaten Pesawaran berkisar 40 cm sampai dengan 2 meter.

Karena, lanjut dia, topografi wilayahnya berbeda-beda sehingga ketinggian air yang merendam itu berbeda-beda.

Demi Tugas, Guru SDN 3 Banjar Agung Nekat Berjalan Kaki Terobos Banjir Menuju Sekolah

Atasi Banjir di Hadimulyo Barat Metro, Anak Sungai Way Bunut Akan Dinormalisasi

Aset Bangunan Rp 4,6 Miliar di Lampung Jadi Tempat Berburu Hantu dan Pasangan Mesum

Ratusan Lurah Demo Wakil Wali Kota Bandar Lampung karena Statemen Ini, Yusuf Kohar Bungkam

Dia mengungkapkan, wilayah desa yang paling banyak terdampak banjir yakni Kecamatan Gedongtataan.

Menurut dia, ada empat desa yang dilanda banjir. Yaitu Desa Bagelen, Desa Sukaraja, Desa Gedongtataan, dan Desa Karang Anyar.

Kemudian wilayah terdampak lainnya Kecamatan Negri Katon di dua desa. Yaitu Kagungan Ratu dan Purworejo.

Lalu, Kecamatan Way Lima di Desa Batu Raja.

Demi Tugas, Guru SDN 3 Banjar Agung Nekat Berjalan Kaki Terobos Banjir Menuju Sekolah

Hujan deras yang mengguyur wilayah Lampung Utara pada Selasa 21 Januari 2020 kemarin membuat sejumlah jalan terendam banjir. 

Salah satunya jalan di perbatasan Desa Bandar Agung, dusun Bandar Rejo Kecamatan Muara Sungkai dengan Desa Haduyang Ratu dan Isorejo Kecamatan Bungamayang tidak bisa dilalui akibat luapan air dari sungai Sungkai.

Saat ini kondisinya sudah berkurang tinggal 1 meter.

Kepsek SDN 3 Bandar Agung mengungkapkan hujan deras yang terjadi beberapa hari ini membuat sungai Sungkai meluap sehingga mengakibatkan banjir dengan ketinggian 1,5 meter.

Namun hal itu tidak membuat dirinya serta para dewan guru yang lain putus asa untuk pergi ke sekolah.

Dengan mengenakan pakaian ASN para guru nekat menyeberang dengan berjalan kaki menerobos banjir hanya untuk berjuang agar bisa sampai ke sekolahan.

"Ya bagaimana lagi, dikala banjir, menjadi tugas menjadi guru membuat kami harus nekat menerobos banjir dengan berjalan kaki,” ujarnya, Rabu 22 Januari 2020.

Dirinya berharap agar pemerintah bisa turun ke lokasi, sebab jalan ini akses jalan menuju ke sekolah.

Sedangkan jalan yang lain cukup jauh melewati kebun tebu.

Sementara camat Muara Sungkai Jonismon mengatakan pihaknya bersama dengan aparat desa akan turun ke lokasi terjadi banjir.

Memang di dearah itu hampir setiap tahun selalu banjir ketika musim penghujan tiba.

Sebab dataran rendah.

Bila banjir otomatis tidak bisa dilalui baik kendaraan rodan dua maupun kendaraan roda empat.

Kisah Korban Banjir Semaka, Butuh 3 Hari Singkirkan Batu dan Tanah Setinggi 1,7 Meter di Masjid

Lantai keramik di Masjid Baiturrahman, Pekon Way Kerap, Kecamatan Semaka, Tanggamus kini sudah terlihat lagi.

Setelah tiga hari bergotong royong, warga akhirnya berhasil menyingkirkan material banjir yang mengubur setengah bangunan masjid.

Masjid tersebut termasuk yang paling parah terdampak banjir yang melanda Kecamatan Semaka pada Kamis (9/1/2020) malam.

Selain air bercampur lumpur, tanah dan bebatuan juga memasuki bangunan masjid seluas 10 x 10 meter persegi ini.

Tidak tanggung-tanggung, material banjir yang masuk ke dalam masjid mencapai setinggi orang dewasa, yakni sekitar 1,7 meter.

Tinggi masjid bercat hijau itu sekitar 3 meter. 

Upaya pembersihan material pun memakan waktu tiga hari, dari pagi sampai malam.

Beruntung, listrik sudah menyala pada Jumat (10/1/2020) malam.

Proses membersihkan masjid melibatkan polisi, TNI, pramuka, Satpol PP, damkar, Banser NU, dan organisasi masyarakat lainnya.

"Saat kami tiba di sini mulanya membersihkan jalan lintas dulu. Terus sambil disusuri melihat kondisi masjid ini. Akhirnya kami putuskan fokus di masjid ini," ujar Ketua DPW FPI Tanggamus Muksin.

Ia mengatakan, banyak pihak yang turut menyingkirkan material banjir dari dalam masjid.

Namun, banyaknya material yang masuk dibutuhkan waktu tiga hari untuk membersihkan masjid.

Bahkan FPI sendiri sudah mengerahkan 30 anggotanya secara bergantian membersihkan material.

"Kendala kami jumlah material yang banyak sekali, terus bercampur tanah dan batu. Jadi tidak bisa disiram pakai air saja," ujar Muksin.

Selama ini upaya pembersihan dengan berbagai alat, seperti cangkul, linggis, dan tangan kosong.

"Kelihatannya lumpur biasa, tapi dicangkul natap batu. Itulah beratnya. Tapi alhamdulillah, pelan-pelan sekarang semuanya sudah dikeluarkan," kata Muksin.

Pihaknya akan sebisa mungkin membuat masjid tersebut kembali seperti sedia kala.

Termasuk mengganti karpet, Alquran, dan perlengkapan lainnya.

Sebab semua perlengkapan di dalam masjid rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Belum lagi beberapa kaca jendela rusak.

"Prinsip kami, kalau melakukan sesuatu sampai tuntas. Meskipun sementara masjid sudah bisa digunakan, tetap kami isi lagi barang-barang sama seperti awalnya," ujar Muksin.

Warga setempat bersyukur Masjid Baiturrahman sudah bersih dan bisa digunakan untuk beribadah.

"Alhamdulillah, masjidnya sudah bisa dipakai meski masih seadanya dulu. Ini juga masih dibersihkan terus sampai semuanya beres," ujar Setiawan, warga setempat. (Tribunlampung.co.id/Robertus Didik Budiawan)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved