Tribun Bandar Lampung
Anggie Rachmat, Fashion Designer yang Mengangkat Kain Etnik Indonesia
Anggie Rachmat, Fashion designer kelahiran Palembang 21 November 1978 itu hasil desainnya memiliki ciri khas mengangkat kain etnik Indonesia.
Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: Reny Fitriani
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Setiap fashion designer pasti memiliki ciri khas masing-masing pada desain yang dihasilkannya.
Begitupun dengan Anggie Rachmat, Fashion designer kelahiran Palembang 21 November 1978 itu hasil desainnya memiliki ciri khas mengangkat kain etnik di Indonesia.
Istri Kapolres Lampung Barat AKBP Rachmat Tri Haryadi, SIK, MH mengatakan, keputusannya menjadi fashion designer mengangkat kain etnik muncul sejak tahun 2015, saat sedang berada di Sintang Kalimantan Barat karena suaminya bertugas sebagai Wakapolres disana.
Saat sedang berada di Sintang, Anggie berkunjung ke perkampungan bukit kelam.
Di sana sebagian besar warganya berprofesi sebagai pengrajin yang menenun kain etnik dayak.
• Tim Robot UBL Sabet 5 Medali Olimpiade Robot se-Sumatera, Rela Begadang hingga Tidur di Kampus
• Pemuda Bandar Lampung Sukses Ciptakan 3 Mesin Pertanian Digital, Sempat Kurang Dana sampai Berutang
• Bakal Diresmikan Pertengahan Maret, Pekerja Kebut Finishing Flyover Abdul Haq-Komarudin
• Jelang Bulan Ramadan, Pengepul Buah Kolang-kaling Mulai Banyak di Tubaba
Para pengrajin itu mengatakan pada Anggie kalau untuk kain yang dibuat dengan bahan kimia bisa dibuat dalam waktu tiga bulan.
Sedangkan untuk kain dengan bahan alami bisa dibuat hingga satu tahun.
Kain itu dijual dengan harga Rp 750 ribu per pcs.
Namun kain itu hanya bisa digunakan untuk upacara adat atau pernikahan, sehingga tidak banyak orang membeli kain itu.
Anggie pun memutuskan untuk membantu para pengrajin itu agar kain-kainnya bisa terjual banyak.
Cara Anggie membantu dengan membeli kain itu dalam jumlah cukup banyak kemudian dibuat desain dengan brand The Anggie.
Anggie mendesain jaket dan outer yang dibuat dari kain etnik dayak.
Desain itu terbilang nekat, karena Anggie tidak memiliki basic sebagai desainer.
Hasil desainnya pun dikirim ke beberapa garmen namun hasil produksinya tidak ada yang sesuai.
Hingga akhirnya Anggie berhasil menemukan garmen yang bisa memproduksi hasil desain sesuai dengan keinginan Anggie.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/anggie-rachmat.jpg)