Kasus Corona di Lampung

Cerita Pembuat APD bagi Tenaga Medis di Lampung, Rela Lembur Demi Penuhi Pesanan

Elly Konveksi di Bandar Lampung, sudah dua minggu terakhir menjahit APD pesanan dari sejumlah pihak.

Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id/Deni Saputra
Proses pembuatan APD di Elly Konveksi Bandar Lampung. Cerita Pembuat APD bagi Tenaga Medis di Lampung, Rela Lembur Demi Penuhi Pesanan 

"Pesanan ada dari dokter, rumah sakit. Ada juga langsung dari ibu wakil gubernur. Kalau untuk pesanan luar kota belum bisa karena tenaga kami juga kurang," katanya.

Elly menambahkan, saat ini bahan dasar APD yaitu kain spon bon sebagai material ringan dan tahan air mulai mengalami kelangkaan.

Awalnya, APD produksinya hanya menggunakan warna putih. Namun karena kendala itu,kini APD produksinya berwarna-warni seperti cream, hijau,biru dan orange.

"Bahan kami beli dari Bandar Lampung tapi harganya juga mulai naik 30 persen dari biasanya," kata Elly.

Agus, salah satu penjahit APD menuturkan, sehari ia menyelesaikan 10 set APD.

Untuk menjahit satu APD bisa memakan waktu 25 menit.

Ia mengaku, tidak kesulitan membuat APD.

Hanya saja, proses menjahitnya sedikit berbeda dengan menjahit seragam sekolah atau seragam kantor.

"APD ini kan bahannya lebar, sehingga membutuhkan bantuan orang lain dalam melakukan pemotongan. Jadi ada yang melakukan pemotongan, ada yang jahit, ada yang obras dasar," ceritanya, Minggu (5/4/2020).

Agus mengaku, meski lembur dia mengaku bersyukur.

Sebab, di tengah pandemi Corona ini, pesanan pakaian biasa lesu.

"Lumayan kan lagi sepi, tapi kita masih ada pesanan," katanya.

Rojak, penjahit APD lainnya mengatakan, agar tidak suntuk menyelesaikan banyaknya pesanan APD, di sela menjahit ia menghibur diri dengan mendengarkan musik.

Pasalnya, sejak bangun pagi hingga malam hari ia disibukan dengan menjahit sehingga timbul rasa jenuh.

"Semampunya kita, kalau capek istirahat. Tapi biasa paling malam sampe jam 12 (24.00 WIB) kita sudah istirahat," kata Rojak.

Rojak melakukan tugas mengobras APD.

Awalnya cukup sulit melakukan obras, karena bahannya lebar.

Namun lama-kelamaan menjadi terbiasa. Karena sering lembur, Rojak pun memilih bermalam di lokasi konveksi.(Tribunlampung.co.id/m joviter husein)

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved