Berita Nasional

Kisah Pengusaha Warteg Tetap Bagi Makanan Gratis meski Omzet Merosot 80 Persen Akibat Virus Corona

Seorang pengusaha warteg tetap berbagi makanan gratis meski usahanya mengalami kerugian akibat pandemi virus corona atau Covid-19.

KOMPAS.COM/DEAN PAHREVI
Kondisi pengusaha warteg Nur Aliah yang wartegnya berlokasi di Jalan Ki Mangun Sarkoro, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Kamis (16/4/2020). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JAKARTA - Seorang pengusaha warteg tetap berbagi makanan gratis meski usahanya mengalami kerugian akibat pandemi virus corona atau Covid-19.

Apalagi, ruang gerak masyarakat dibatasi selama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Kondisi tersebut berdampak pada ekonomi para pengusaha kecil, salah satunya pemilik warteg.

Masyarakat yang kini memilih tetap berada di dalam rumah serta aktivitas perkantoran dan sekolah yang diterapkan dari rumah, membuat usaha warteg kini sepi pembeli.

Nur Aliah merupakan satu di antara pengusaha warteg di Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Kondisi Terbaru Twindy Rarasati Setelah Sepekan Dirawat di Ruang Isolasi karena Virus Corona

Patung Raksasa Runtuh di Kelenteng Kwan Sing Bio, Kesaksian Warga Saat Detik-detik Patung Roboh

Napi Lampung Mengaku Bayar Rp 10 Juta Ikut Asimilasi, Menteri Yasonna: Terbukti Pungli Saya Pecat

Jajakan 600 PSK Online, Muncikari Mami Lisa Tawarkan Mahasiswi hingga Pekerja Kantoran

Ia mengatakan bahwa selama pandemi Covid-19 omzetnya turun hingga 80 persen.

Pada hari normal, Nur mampu meraup omzet Rp 1,5 juta-Rp 1,7 juta per hari.

Kini, dia hanya dapat omzet Rp 400.000 hingga Rp 500.000 per hari.

Nasi putih yang biasanya pada hari normal bisa habis terjual hinggal 30 liter, kini hanya habis paling banyak 7 liter.

Untuk mengirit modal, Nur juga terpaksa mengurangi takaran bahan utama masakannya.

"Kalau dulu sebelum corona, keuntungan itu bisa dapat Rp 400.000 sampai Rp 500.000 sehari. Sekarang mah tidak dapat untung malah nombok pakai uang tabungan."

"Sekarang juga kita kurang-kurangin, beli beras yang biasanya karungan jadi eceran cuma beli tujuh liter," kata Nur kepada Kompas.com, Kamis (16/4/2020).

Nur mengaku kini tabungannya sudah habis.

Dia juga terpaksa menjual sepeda motor miliknya.

Hal itu untuk menambah modal jualan serta kebutuhan hidup sehari-hari.

"Sekarang saya sudah habis-habisan. Jualan sekaramg cuma dapat capeknya doang."

"Tabungan saya habis buat modal, motor saya jual buat modal dah buat (kebutuhan) sehari-hari," ujar Nur.

Tetap bagikan makanan gratis

Kendati demikian, Nur pun masih sangat bersyukur dirinya dan keluarga masih bisa makan serta sehat, meski sedang dalam kondisi sangat sulit perekonomian di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

Rasa syukur itu membuat Nur tidak lupa dan selalu sempatkan untuk berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan pertolongan.

"Saya sebelum corona Alhamdulillah tiap ada lebihan makanan kita kirim ke pengemis di rel kereta, di jalanan."

"Sekarang pas corona, saya sudah jarang keliling karena khawatir juga kan keluar-keluar, cuma tiap hari pasti ada saja yang minta makan ke warung dan kita kasih."

"Sehari bisa tiga sampai lima orang minta makan, kayak pemulung, pengemis," ujar Nur.

Nur berharap pandemi Covid-19 segera berakhir agar perekonomian masyarakat dan pelaku usaha seperti dirinya bisa kembali normal.

Buruh tukang jahit bagikan masker gratis

Sebelumnya, seorang buruh tukang jahit membuat masker kain dan membagikannya secara gratis.

Kegiatan yang dilakukan pria dengan gelar sarjana tersebut merupakan bentuk solidaritas dalam melawan virus corona atau Covid-19.

Sang buruh tukang jahit itu bernama Heri Saputra (29), warga Jalan Budi Utomo, Kelurahan Beringin Raya, Kota Bengkulu.

Ia merupakan kuli jahit atau buruh tukang jahit yang bekerja pada pengusaha jahit.

Alumni Prodi Matematika Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) itu mengaku, aksi yang dilakukannya tersebut bermula dari melihat banyaknya keluhan warga di sekitar rumah dan beberapa temannya.

Keluhan itu mengenai kelangkaan masker di Kota Bengkulu sejak wabah virus corona atau Covid-19 menerpa.

Dari situlah, Heri kemudian berinisiatif membuat sendiri masker kain untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.

"Alhamdulillah beberapa teman ikut membantu, baik dari donasi membeli bahan kain, hingga menjahit dan packing masker."

"Bahkan saat membagikan ke masyarakat, beberapa teman pun ikut andil," ungkap Heri, belum lama ini.

Aksi Heri justru menjadi perhatian warga.

Sejumlah donasi berdatangan.

Banyaknya donasi membuat Heri semakin semangat memproduksi masker kain lebih banyak.

"Aksi pembagian masker justru makin banyak dukungan warga dalam bentuk donasi membeli bahan. Saya semakin semangat," ujarnya.

Ditanya apakah dirinya tidak rugi dengan aksi yang dilakukan ini, Heri mengaku justru senang bisa membantu orang di tengah kesulitan mendapat masker saat ini.

"Alhamdulillah saya tidak merasa rugi, Bang. Karena rezeki itu tak perlu dikhawatirkan."

"Yang penting bisa membantu orang, dan orang senang dengan bantuan kita, itu sudah bagian dari rezeki," ujar dia.

Heri menyebutkan, semangat kebersamaan tersebut ia dapatkan saat duduk di bangku kuliah.

Saat itu, ia aktif di salah satu organisasi mahasiswa pencinta alam, Madyapala, UMB.

Rasa solidaritas dan kebersamaan itu masih terbawa hingga sekarang.

"Saya hanya mengerjakan apa yang saya bisa sumbangkan."

"Karena saya tukang jahit mampunya ya buat masker. Mau berbuat lain saya tidak mampu," ujarnya tertawa lepas.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Omzet Turun hingga 80 Persen akibat Wabah Corona, Pemilik Warteg Ini Tetap Berbagi Makanan.

Seorang pengusaha warteg tetap berbagi makanan gratis meski usahanya mengalami kerugian di tengah wabah virus corona atau Covid-19. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved