Breaking News:

Ramadan 2020

Utang Puasa Ramadan Tahun Lalu Belum Dibayar, Apa Hukumnya?

Bagaimana jika belum membayar utang puasa Ramadan lalu sementara saat ini sudah puasa Ramadan lagi?

Utang Puasa Ramadan Tahun Lalu Belum Dibayar, Apa Hukumnya?
Net
Ilustrasi - Utang Puasa Ramadan Tahun Lalu Belum Dibayar, Apa Hukumnya?

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Bagaimana jika belum membayar utang puasa Ramadan lalu sementara saat ini sudah puasa Ramadan lagi?

Wajib Mengqadha Setelah Ramadan

Puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam.

Mereka yang meninggalkan puasa berkewajiban untuk meng-qadhanya di luar bulan Ramadan.

Kewajiban tersebut secara tegas disampaikan dalam Alquran: “Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Hukum Bayar Zakat Fitrah Via Online di Ramadan 2020

Hukum Pasutri Bermesraan saat Puasa

Hukum Bayar Zakat Fitrah untuk Anggota Keluarga yang Sudah Meninggal Dunia

Hukum Salat Idul Fitri 2020 di Rumah, Apakah Perlu Ada Khutbah?

(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa) maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah, Ayat: 183-184)

Bagi orang yang telat mengqadha puasa sampai Ramadan berikutnya, maka kondisi dari orang tersebut harus dilihat terlebih dahulu.

Kalau seseorang memiliki utang puasa, lalu ia tidak sempat mengqadha karena uzur seperti dalam kondisi sakit yang tidak memungkinkan untuk berpuasa, atau kondisi hamil atau menyusui atau orang yang menunda karena lupa, atau orang yang tidak tahu keharaman penundaan qadha maka dalam keadaan demikian boleh baginya untuk mengakhirkan puasanya setelah masuknya Ramadan selanjutnya sampai uzur tersebut tidak lagi ada.

Tetapi kalau orang tersebut menunda-tunda pelunasan utang puasanya tanpa uzur, maka baginya wajib mengqadha setelah Ramadan berikutnya dan juga membayar fidyah sebesar satu mud (815,39 gram bahan makanan pokok seperti beras dan gandum) untuk satu hari utang puasanya.

Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Abu Hasan al-Mawardi, dalam kitab al-Hawi al-Kabir, juz 10, hal. 42:

“Ketika seseorang membatalkan puasa bulan Ramadan beberapa hari karena faktor uzur atau hal yang lain, maka hal yang utama baginya adalah segera mengqadha puasanya. Mengqadha ini bersifat muwassa’ (luas/panjang) selama tidak sampai masuk Ramadan selanjutnya. Jika sampai masuk waktu Ramadan selanjutnya maka ia berpuasa fardhu, bukan puasa qadha.

Ketika puasa Ramadan pada tahun tersebut telah sempurna, baru ia mengqadha puasanya yang lalu dan dilihat keadaannya: jika ia mengakhirkan qadha karena ada uzur yang terus-menerus berupa sakit atau perjalanan maka tidak wajib kafarat baginya. Jika ia mengakhirkan qadha tanpa adanya uzur maka wajib baginya untuk mengqadha puasa sekaligus membayar kafarat pada setiap hari (yang belum diqadha) senilai satu mud makanan, hal ini telah menjadi konsensus para sahabat.”

KH MUNAWIR
Ketua Komisi Fatwa MUI Lampung

Penulis: sulis setia markhamah
Editor: Reny Fitriani
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved