Lebaran 2020
Panduan Salat Idul Fitri di Rumah dari MUI Lampung
Berikut panduan salat Idul Fitri di rumah, seperti yang disampaikan Sekretaris MUI Lampung KH Basyaruddin Maisir.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Daniel Tri Hardanto
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Pemerintah pusat dan daerah telah mengimbau umat Muslim untuk melaksanakan salat Idul Fitri di rumah.
Sejumlah organisasi keagamaan juga mengeluarkan imbuan serupa.
Umat Muslim diminta tidak melaksanakan salat Idul Fitri secara berjamaah di masjid ataupun lapangan demi menghindari penularan virus corona (Covid-19).
Berikut panduan salat Idul Fitri di rumah, seperti yang disampaikan Sekretaris MUI Lampung KH Basyaruddin Maisir.
Basyaruddin menuturkan, salat Id di rumah bisa dilakukan secara berjamaah bersama keluarga inti.
• Perjuangan Pedagang Keliling di Bandar Lampung Hadapi Krisis Saat Pandemi Corona
• Ketua MUI Lampung Salat Id di Rumah, Imbau Warga Tak Takbir Keliling
• Cara Mengetahui Tanda-tanda Datangnya Lailatul Qadar
• Fatwa Ulama Dunia Salat Ied Idul Fitri di Masa Pandemi Corona, Dari Arab Saudi hingga Al Azhar Mesir
Sementara amalan-amalan yang dilakukan sebelum salat Idul Fitri bisa dimulai sejak malam hari mulai terbenamnya matahari hingga 1 Syawal 1441 Hijriah.
"Kita disunahkan uuntuk memperbanyak membaca takbir, tahmid, dan tahlil. Sebagaimana Rasulullah SAW menyampaikan, siapa yang menghidupkan dua malam Idul Fitri dan Idul Adha, juga malam Nisfu Syaban, maka hatinya tidak akan dimatikan oleh Allah SWT pada saat orang-orang mati hatinya," kata Basyaruddin, Kamis (21/5/2020).
Bacaan takbir, tahmid, dan tahlil ini dibaca terus berulang-ulang.
Kemudian akhir pelaksanaan membaca takbir yaitu sampai dengan sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri.
Hukum salat Idul Fitri adalah sunah muakad (dianjurkan) bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, sedang di kediaman maupun di perjalanan (musafir).
Sunah sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri adalah mandi dan memotong kuku.
Juga memakai pakaian terbaik yang ia miliki dan memakai wewangian.
Lalu makan walaupun sedikit sebelum melaksanakan salat Id.
Waktu pelaksanaannya dari mulai terbitnya matahari (waktu salat Duha) sampai tergelincir matahari.
Pelaksanaannya boleh berjamaah atau munfarid (sendiri).
Rakaat salat Idul Fitri berjumlah 2 rakaat dan dilaksanakan sebelum khotbah.
Berbeda dengan salat Jumat dimana khotbah dahulu baru salat.
Di dalam salat Idul Fitri tidak ada azan dan ikamah.
Bacaan niat berbarengan dengan takbiratul ihram.
Bacaan niatnya 'Ushallii sunnatan lii'idil fitri rak'ataini (imaaman/akmuuman/ada'an) lillah ta'ala (Aku berniat salat sunah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam/jika sendiri) karena Allah Ta'ala).
Rakaat pertama setelah membaca iftitah (sebelum membaca Al-Fatihah dan surah) sunah membaca takbir 7 kali.
Rakaat kedua (sebelum membaca Al-Fatihah dan surah), sunah membaca takbir 5 kali.
Surat yang dibaca setelah Al-Fatihah pada rakaat pertama adalah surat Qof, sedangkan pada rakaat kedua adalah surat Iqtarobat.
Atau pada rakaat pertama surat Al-Qomar dan rakaat kedua surat Al-A'la.
Jika surat yang panjang seperti di atas tidak hafal, boleh surat apa saja yang hafal baik pada rakaat pertama maupun rakaat kedua.
Di antara setiap bacaan takbir disunahkan berhenti sejenak untuk memberi jeda di antara masing-masing takbir.
Kemudian diiringi dengan bacaan tasbih, tahmid, dan tahlil.
Bacaan yang paling dianjurkan adalah: Subhanallah, alhamdulillah, walailahailallahuwallahuakbar.
Setelah salat Id selesai disunahkan khotbah dua kali.
Ketika khotbah pertama sunah membaca takbir sebanyak 9 kali. Sedangkan saat khotbah kedua sunah membaca takbir sebanyak 7 kali.
"Hendaknya semua anggota keluarga selaku jamaah ikut mendengarkan khotbah," kata Basyaruddin.
Jika salat secara munfarid (sendirian), maka cukup salat sendirian sebagaimana cara salat Idul Fitri di atas, tanpa menyertakan khotbah.
Tata cara khotbah Idul Fitri (singkat): Rukun khotbah Idul Fitri sama dengan khotbah Jumat, yakni ada 5.
"Bedanya, khotbah idul fitri diawali dengan takbir 9 kali pada khotbah pertama dan 7 kali pada khotbah kedua," tambah Basyaruddin.
Lalu memuji Allah SWT, bersalawat, wasiat agar bertakwa kepada Allah SWT, membaca ayat pada salah satu dari dua khotbah, dan membaca doa untuk mukminin mukminat dan muslimin muslimat pada khotbah ke-2.
Terkait halal bihalal sendiri, MUI mengimbau agar dilakukan secara online salah satunya dengan memanfaatkan sosial media.
Ini demi menghindari berkumpulnya orang yang menyebabkan kerumunan dan berisiko terhadap penularan covid-19. (Tribunlampung.co.id/Sulis Setia M)