Berita Nasional

Tersambar Petir, Istri Tewas di Depan Suami dan Anak

Seorang istri tewas di depan suami dan anaknya akibat tersambar petir. Korban tewas tersambar petir seusai menanam tembakau di sawah miliknya.

KOMPAS.com/A Faisol
Jenazah Subhana saat berada di rumah duka. Tersambar Petir, Istri Tewas di Depan Suami dan Anak. 

Sementara Mustofa dan Giono tersadar setelah mendapatkan perawatan.

"Informasi yang kita terima begitu. Ada warga yang tersambar petir," ujar Humas TNWK Sukatmoko, Selasa (7/1/2020).

Namun, Sukatmoko mengaku belum menerima informasi lebih detail terkait adanya korban meninggal dunia yang tersambar petir di TNWK.

7 warga tersambar petir

Sebelumnya, tujuh orang warga Pringsewu, Lampung tersambar petir pada Sabtu (15/6/2019) sore.

Dari tujuh warga yang tersambar petir itu, dua warga meninggal dunia.

Sedangkan, lima orang lainnya harus dilarikan ke tempat pelayanan kesehatan guna mendapat pertolongan medis.

Warga yang tewas tersambar petir bernama Tri Purwanto (35).

Tri Purwanto merupakan warga Pekon Nusawungu.

Korban tewas tersambar petir saat berada di gubuk pemancingan Pekon Nusawungu, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Pringsewu, Lampung.

Satu warga tewas lainnya bernama Tunggono (54).

Tunggono adalah petani warga Pekon Klaten, Kecamatan Gading Rejo.

Tuggono tersambar petir saat berteduh di gubuk di areal pesawahan Pekon Klaten, Kecamatan Gadingrejo.

Sedangkan, lima orang lainnya di lokasi itu dilarikan ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.

Keseluruhan korban merupakan warga Kecamatan Banyumas tetapi berbeda pekon.

Kelima korban tersebut adalah Suswanto (30) warga Pekon Banyuwangi, Deni Nurohmat (28) warga Pekon Giri Tunggal, Aditya Agung Gumelar (22) warga Pekon Sukamulya, Adi Kurniawan (21) warga Sri Way Langsep, dan Sarjiah (34) warga Pekon Nusawungu.

Aditya Agung Gumelar dan Adi Kurniawan dilarikan ke Puskesmas Banyumas.

Sedangkan Suswanto, Deni Nurohmat, dan Sarjiah dibawa ke Rumah Sakit Mitra Husada (RSMH).

Peristiwa petir terjadi ketika hujan deras mengguyur wilayah Bumi Jejama Secancanan pada Sabtu sore.

Seorang korban yang tersambar di Pekon Nusawungu, Kecamatan Banyumas, Suswanto mengungkapkan, ketika itu, ia sedang mancing.

Begitu hujan deras turun, mereka berteduh di pondok pemancingan.

"Saya sudah tidak mancing, berteduh bersama-sama yang lainnya," ungkap Suswanto, saat ditemui di IGD Rumah Sakit Mitra Husada, Sabtu malam.

Suswanto masih terbaring di IGD dengan tangan terinfus, Sabtu malam.

Ia pun masih bisa bercerita dengan jelas terkait peristiwa itu.

Namun, Suswanto hanya tahu ada petir kecil-kecil.

Kemudian, ia melihat sinar merah.

Setelah itu, Suswanto mengaku tidak mengingat apa-apa.

"Saya tersadar setelah mendengar ada orang teriak istigfar-istigfar, kemudian melihat yang lainnya juga tidak sadar," ungkapnya.

Sementara itu, pemilik pemancingan, Tofik (35) mengaku mendengar suara gelegar petir keras.

Ketika itu, ia sedang berada di rumah yang jaraknya tidak jauh dari gubuk tempat korban tersambar petir.

Lantas, Tofik bangun dan lari.

Saat itu, ia menemukan istrinya, Sarjiah sudah terkapar.

Saat ini, Sarjiah juga dirawat di RSMH Pringsewu.

Sarjiah mengaku yang dirasakan saat ini sesak, dada panas, dan kepala sakit.

Ia pun mendapat oksigen dan infus.

Diketahui, Sarjiah, Suswanto, dan Deni Nurohmat mendapat pengawasan intensif dari tim medis IGD RSMH.

Anggota DPRD Pringsewu dari Dapil Banyumas, Suherman turut mengawal ketiga pasien di RSMH.

Ketua Partai Golkar Pringsewu itu pun berharap, ketiga pasien dapat memperoleh penanganan intensif.

Sementara itu, di Pekon Klaten Kecamatan Gadingrejo, korban Tunggono (54) tewas dengan posisi telungkup di salah satu gubuk sawah setempat.

Kepala Polsek Gadingrejo Iptu Anton Saputra mengatakan, seorang saksi, Zailani (57) melihat kepulan asap di gubuk areal pesawahan Pekon Klaten.

Di mana, gubuk itu sebagai tempat korban sedang berteduh karena cuaca hujan.

Sebelumnya, kata Anton, saksi mendengar suara petir ketika cuaca dalam keadaan hujan.

Saksi melihat gubuk korban ada kepulan asap.

"Saksi mendatangi gubuk tersebut dan menemukan korban dalam kondisi tertelungkup dan dalam keadaan tidak sadarkan diri, kemudian meminta bantuan warga dan Kepala Pekon untuk mengevakuasi korban," kata Anton.

Korban lalu dievakuasi ke rumahnya mengunakan mobil ambulans.

Namun setelah mendapat pemeriksaan medis, korban dinyatakan meninggal dunia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Petani Tewas Tersambar Petir di Depan Suami dan Anak.

Seorang istri tewas di depan suami dan anaknya akibat tersambar petir. Korban tewas tersambar petir di Probolinggo, Jawa Timur. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved