Tribun Bandar Lampung

Tanggapan PLN Lampung Terkait Kenaikan Listrik yang Dinilai Tidak Wajar

Manager Komunikasi PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Lampung Junarwin menilai ada beberapa penyebabnya.

KOMPAS.com/SRI LESTARI
Ilustrasi - Meteran listrik. Tanggapan PLN Lampung Terkait Kenaikan Listrik yang Dinilai Tidak Wajar 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Menyikapi keluhan sebagian pelanggan PLN mengenai tagihan listrik bulan Juni dengan nilai cukup fantastis, Manager Komunikasi PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Lampung Junarwin menilai ada beberapa penyebabnya.

Salah satunya saat posisi physical distancing dan social distancing diakuinya petugas tidak membaca kwh secara langsung ke pelanggan namun pelanggan melakukan pelaporan secara mandiri.

"Petugas kita memang off pembacaan meteran beberapa bulan lalu. Baru mulai bulan ini kita baca sehingga mungkin angka stand rilnya baru coba disesuaikan," bebernya.

Akibat tidak dibacanya dua atau tiga bulan lalu menurutnya otomatis pasti ada selisih.

"Kalau bulan kemarin kan kita nembaknya ada yang kekecilan ada yang kebesaran, dipukul rata-rata. Akhir Mei lalu kita mulai baca lagi meteran pelanggan, otomatis dari data yang kemarin ke ril sekarang dievaluasi kembali," jelas Junarwin.

Warga Bandar Lampung Kaget Tagihan Listrik Bulan Juni Membengkak Hampir Rp 6 Juta

Warga Bisa Nyeberang Tanpa Suket, Penyeberangan di Pelabuhan Bakauheni Sudah Dilonggarkan

Lampung Masuk 5 Besar, Tingkat Kesembuhan Pasien Covid Tinggi

Kemungkinan saat dilakukan evaluasi, sambungnya, ada kenaikan yang belum sempat tertagih oleh PLN.

Namun begitu selisih tersebut juga tidak serta merta ditagihkan dalam satu bulan namun dibagi ke bulan-bulan berikutnya.

"Misal kenaikan 100 persen, maka yang 40 persen dibayar di bulan ini dan yang 60 persen diangsur di tiga bulan berikutnya. Sehingga masyarakat tidak terlalu terkejut dengan kenaikan yang drastis itu," tambahnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat yang merasa tagihan di luar kewajaran atau terjadi ketidaksesuaian dengan kwh yang sudah digunakan bisa melakukan koreksi disesuaikan angka stand untuk pembayarannya.

"Disertai bukti fotonya termasuk dievaluasi putaran kwh-nya masih standar atau tidak. Karena instalasi bocor juga bisa berpengaruh terhadap pemakaian," jelas dia.

Faktor work from home juga dinilainya menjadi faktor kenaikan tagihan listrik.

"Misal biasanya jarang nonton tivi jadi lebih sering nonton. Jam pemakaian listrik yang juga jadi bertambah, ini beberapa faktor penyebab kenaikan tagihan juga," bebernya.

Warga Bandar Lampung Kaget Tagihan Listrik Bulan Juni Membengkak Hampir Rp 6 Juta

Tak sedikit warga Bandar Lampung mengeluhkan tagihan listrik bulan Juni 2020 yang membengkak dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Bahkan ada yang tagihannya mendekati angka Rp 6 juta seperti dialami Eva Suryani warga Perumnas Way Kandis, Tanjung Senang ini.

"Beneran tembus Rp 5.780.000 bulan ini. Padahal normalnya Rp 580 ribu per bulan. Saya pelanggan 1.300 VA," ungkapnya tak bisa menutupi keheranannya saat dikonfirmasi Tribunlampung.co.id, Selasa (9/6/2020).

Eva merasa pemakaiannya selama ini normal standar rumah tangga.

Tidak ada yang berbeda.

 

Seperti penggunaan kulkas, mesin cuci, setrika, magiccom, televisi, dan pendingin ruangan 1 unit yang hanya digunakan malam hari.

"Pemakaian standar rumah tanggalah. Tentu kaget naiknya nggak salah-salah berkali lipat," keluh dia.

Eva menilai tidak mungkin tagihannya mencapai 4 ribu kwh terlebih pemakaian tetap normal seperti bulan-bulan sebelumnya yang biasanya tidak sampai angka 1.000 kwh.

"Kwh-nya itu kami liat jalannya terlalu cepet. Ya logika nggak sih hitungan satu bulan bisa 4 ribuan. Pakai apa gitu padahal normal-normal aja makenya," tutur dia.

Eva mengaku sudah mendatangi kantor PLN Rayon Way Halim namun tanggapannya diharuskan untuk membayar sesuai nilai tagihan.

"Sudah nanya ke PLN nggak ditanggapi katanya wajib bayar. Ya saya belum bayar tagihannya segitu nggak cukup duitnya," papar guru di salah satu MTS Bandar Lampung ini.

Dia berharap ada penjelasan yang bisa diterima logika terkait melonjaknya tarif pembayaran listrik ini.

Diakuinya dirinya bahkan sempat menyaksikan ada pelanggan PLN yang pingsan saat mengetahui jumlah tagihannya sampai Rp 25 juta.

"Iya daerah Tanjung Senang juga itu. Ketemu pas di PLN Way Halim. Udah bawa anak kecil, pingsan dia pas tau jumlah tagihannya. Suaminya katanya cuman sopir," kata Eva.

Warga lainnya yang tinggal di Kopri, Kecamatan Sukarame Astuti mengatakan, tagihannya juga naik hampir 3 kali lipat dari sebelumnya Rp 500 ribu menjadi Rp 1.321.416 bulan Juni ini.

"Belum saya bayar juga tagihan bulan ini, ngeliat jumlah tagihannya udah pusing duluan. Kok bisa naiknya banyak bener," keluh ibu dua anak itu.

Diakuinya pada bulan Mei kemarin tagihannya juga sudah mulai naik menjadi Rp 600 ribu.

Tagihan listrik bulan Juni milik Astuti
Tagihan listrik bulan Juni milik Astuti (screenshot)

Di rumahnya memakai daya 1.300 VA.

Astuti mengharapkan kejelasan PLN terkait kenaikan tarif listrik yang sangat signifikan dibandingkan sebelum-sebelumnya.

"Karena saya makenya normal-normal aja. Nggak pakai wifi nggak pakai laptop. Kerja juga nggak wfh (work from home)," tukasnya.(Tribunlampung.co.id/ Sulis Setia M)

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved