Tribun Bandar Lampung
Kisah Pembatik Khas Lampung Bertahan di Tengah Pandemi, Batasi Produksi Agar Karyawan Tetap Bekerja
Selama 3 bulan pertama, dimana wabah corona mulai merebak tak ada pesanan dari para pelanggan.
Penulis: joeviter muhammad | Editor: Reny Fitriani
"Yang bisa nulis batik belum tentu paham pewarnaan, jadi supaya proses nya cepat harus dikerjakan yang ahli di bidang nya," kata Tuti.
Karyawan lainnya Yesi (38) menambahkan, selama pandemi kemarin, hampir 3 bulan tak ada pemasukan sama sekali.
Ia sangat bersyukur sudah sepekan terakhir ini, produksi batik siger mulai dilanjutkan.
Ia menyebut biasanya sehari rata rata ia bisa mengantongi uang Rp 50-75 ribu.
Upah ini didapat tergantung dari banyaknya jumlah pesanan konsumen.
"Kalau lagi rame sehari bisa dapat sekitar Rp 75 ribu, tapi upah ini tetap dibayar sebulan sekali," Jelas Yesi.
Yesi berharap memasuki adaptasi kebiasaan baru atau new normal, bidang UMKM dapat kembali bangkit.
"Semoga bisa berjalan normal seperti biasanya supaya banyak konsumen yang beli, dan kami bisa menjalankan produksi batik lagi," pungkasnya.(Tribunlampung.co.id/Muhammad Joviter)