Tribun Lampung Utara
Harga Singkong di Lampung Utara Rp 800 per Kilogram
Kebijakan tersebut menyikapi aksi demo para petani mengeluhkan murahnya harga singkong yang dibanderol perusahaan.
Penulis: anung bayuardi | Editor: Reny Fitriani
Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Anung Bayuardi
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG UTARA - Pemkab dan DPRD Lampung Utara (Lampura) akan menghentikan sementara produksi perusahaan tapioka bila tak ada kesempakatan harga dengan petani singkong.
Sementara harga singkong disepakati Rp 800 hingga 850 per kilogram, dengan potongan refraksi 15 hingga 20 persen.
Kebijakan tersebut menyikapi aksi demo para petani mengeluhkan murahnya harga singkong yang dibanderol perusahaan.
Karenanya, dalam rapat bersama diputuskan agar perusahaan dan petani dalam dua pekan mampu mencapai kesepakatan harga.
Jika tidak tercapai produksi perusahaan tapioka akan sementara dihentikan.
Baca juga: Tak Terpengaruh Pandemi, Usaha Keripik Singkong Juanto Warga Gunung Agung Tetap Pedas
Baca juga: Pikap Warga Lampung Utara Hilang, Tetangga Sempat Dengar Raungan Mobil Korban di Pinggir Jalan
Pada rapat yang dipimpin Asisten I Azwar Yazid bersama Ketua DPRD Lampura Romli, dan dihadiri Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian, perwakilan petani singkong dan perusahaan, dibuat berita acara yang ditandatangani untuk membentuk tim monitoring menangani persoalan harga singkong.
Asisten I Pemkab Lampura Azwar Yazid mengatakan, ada tiga poin dalam kesepakatan bersama yang telah disepakati.
Yaitu sementara waktu petani singkong menerima harga Rp 800- 850 perkilogram dengan potongan 10 hingga 20 persen dari perusahaan, terhitung 15 hari mulai surat pernyataan tersebut dibuat.
“Ketentuan ini hingga para perwakilan perusahaan menyepakati apa yang menjadi tuntutan para petani,” ujarnya, Kamis 29 Oktober 2020.
Sementara Ketua DPRD Lampura Romli menegaskan, apabila perusahaan tidak memenuhi kata sepakat dengan para petani singkong, pemerintah berhak menghentikan produksi perusahaan sementara, hingga menghasil solusi bersama yang tidak merugikan satu sama lainnya. (Tribunlampung.co.id/Anung Bayuardi)