Tribun Bandar Lampung

Dosen Itera Juara 1 Lomba Apresiasi IPTEK Lampung, Asril Ciptakan Pupuk Hayati dari Limbah Tahu

Asril keluar sebagai juara pertama kategori peneliti setelah menciptakan produk inovasi Proteolizer-Chili Booster.

Penulis: Muhammad Hardiansyah Kusuma | Editor: Reny Fitriani
Dokumentasi
Muhammad Asril. Dosen Itera Juara 1 Lomba Apresiasi IPTEK Lampung, Asril Ciptakan Pupuk Hayati dari Limbah Tahu 

Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Muhammad Hardiansyah Kusuma

TRIBUN LAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Dosen Program Studi Biologi Institut Teknologi Sumatera (Itera), Muhammad Asril, berhasil meraih juara satu dalam Lomba Apresiasi Anugerah IPTEK Provinsi Lampung tahun 2020.

Asril keluar sebagai juara pertama kategori peneliti setelah menciptakan produk inovasi Proteolizer-Chili Booster yaitu pupuk hayati dari limbah cair tahu yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai.

Dalam ajang yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Lampung tersebut penghargaan bagi para juara diserahkan oleh Gubernur Provinsi Lampung, yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Fahrizal Darminto, di Hotel Emersia, Bandar Lampung pada, Selasa,(17/11/2020) kemarin.

Saat ditemui di ruang kerjanya Arsil menceritakan jika penelitian yang ia lakukan merupakan penelitian pada tahun 2018 yang didanai oleh DIKTI pusat.

Hasil penelitian tersebut prosesnya adalah Asril memiliki limbah tahu yang ia ambil dari Kedamaian yang terdapat limbah.

Karena selama ini menurut Asril limbah yang digunakan adalah limbah padat dari tahu itu sendiri, sementara limbah cair tahu tidak digunakan. 

"Berdasarkan ilmu yang saya miliki itu kan tentang mikro biologi, mikro biologi itu tentang mikro organisme bakteri, jamur, dan lainnya yang potensial. Jadi biasanya di setiap sumber tertentu ada mikro organisme disana, nah limbah cair tahu itu kalau dibuang ke lingkungan itu berbahaya, ada mikroba-mikroba disana yang dapat merombak itu, " kata Asril, Rabu (18/11/2020). 

"Konsepnya adalah untuk dijadikan pupuk itu tanaman itu butuh nitrogen, ketika limbah cair itu isinya protein jadi ketika ada bakteri Preteolitik akan dirubah menjadi asam amino yang sumber nitrogen bagi tanaman. Asal muasalnya itu, limbah cair tahu itu saya ambil saya cari bakteri di sana, proses untuk mencari bakteri itu yang lama sebetulnya," sambung Asril. 

Lebih lanjut Asril menjelaskan waktu yang ia butuhkan untuk mencari bakteri tersebut kurang lebih satu tahun dengan cara screening, dari banyaknya bakteri tersebut ia screening hingga tersisa dua bakteri yang terbaik.

Baru kemudian ia memformulasikan dengan mengambil lagi limbah cair tahu yang baru untuk kemudian dimasukkan ke dalam limbah tersebut, dan difermentasi beberapa hari sehingga menjadi pupuk tersebut. 

Awal ide ia tertarik untuk menjadikan limbah tahu cair tersebut menjadi pupuk karena belum ada penelitian terkait penelitian limbah cair tahu untuk mencari bakterinya.

Karena selama ini yang dilakukan adalah limbah cair dijadikan langsung pupuk tanpa ada proses ritme. 

Sementara untuk proses menjadikannya pupuk di luar mengambil bakteri Asril mengatakan 7 sampai 20 hari sudah dapat dijadikan pupuk, tidak lebih dari sebulan, karena protein lebih cepat dalam perobakannya.

Arsil menjelaskan kesulitan yang ia alama dalam melakukan penelitian tersebut adalah menguji langsung kepada tanaman.

Halaman
12
Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved