Breaking News:

Pesisir Barat

Melihat dari Dekat Gua Matu, Wisata Religi yang Mistis di Pesisir Barat

Untuk menuju lokasi Gua Matu, pengunjung dapat melalui Jalinbar dengan jarak tempuh 253 kilometer atau sekira 5,5 jam dari Bandar Lampung.

Penulis: Nanda Yustizar Ramdani | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id / Nanda
Juru Kunci Gua Matu Makmur berdoa sebelum memasuki Gua Matu, Senin (26/4/2021). 

Pengunjung tidak dikenai tiket masuk ataupun dipatok harga sewa jasa juru kunci sebagai tour guide.

Pengunjung cukup membayar seikhlasnya kepada Makmur.

Gua Matu menjadi tempat petilasan perkumpulan para wali untuk bermusyawarah membicarakan metode untuk menyebarkan agama Islam di Lampung.

"Sunan Kalijaga, Nyi Roro Kidul juga pernah di situ," ungkap Makmur.

Penguasanya bernama Dewa Pangeran Hiyang, pemimpin 12 Kerajaan Matu.

Keduabelas kerajaan itu merupakan kerajaan dari bangsa jin muslim di wilayah setempat.

Kekuasaannya terbentang dari Pekon Way Haru, Bengkunat, Pesisir Barat hingga Pantai Manula, Bengkulu.

Menurut Makmur, Kerajaan Jin Matu itu masih ada hubungannya dengan kerajaan jin yang ada di Gunung Pesagi dan Gunung Merapi, Jawa Tengah.

Saat diamanahkan oleh penghuni Gua Matu dari kalangan bangsa jin untuk menjadi juru kunci Gua Matu, Makmur mengaku diberikan benda pusaka berupa keris kecil yang terbuat dari kuningan sepanjang 10 cm dan gagang cambuk dengan panjang yang sama.

Pusaka yang dimiliki juru kunci Gua Matu Makmur berupa keris dan gagang cambuk, Senin (26/4/2021).
Pusaka yang dimiliki juru kunci Gua Matu Makmur berupa keris dan gagang cambuk, Senin (26/4/2021). (Tribunlampung.co.id / Nanda)

"Yang memberikannya Dewa Pangeran Hiyang itu," kata dia.

Ia mengisahkan, Dewa Pangeran Hiyang yang memberikan barang pusaka tersebut melarangnya untuk menjual keris dan gagang cambuk itu.

Menurut penuturan Makmur, Dewa Pangeran Hiyang mengamanahkan kedua pusaka itu untuk diwariskan secara turun-temurun kepada keturunan Makmur.

Fungsi kedua pusaka itu ialah untuk menjaga sang juru kunci dari marabahaya.

Pada 5 Syawal 1442 H nanti, Makmur berencana membuat acara syukuran di Gua Matu.

Tujuannya untuk mengenang penemu Gua Matu, yakni Syawaluddin.

Makmur berpesan kepada para pengunjung untuk menjaga tingkah lakunya ketika mengunjungi Gua Matu.

"Yang sedang dalam masa menstruasi tidak boleh datang ke situ, tidak boleh buang air sembarangan, apalagi yang ingin berbuat maksiat," terang pria yang masih keturunan Syawaluddin itu.

Pria berusia 61 tahun itu menyampaikan, biasanya pengunjung datang ke Gua Matu untuk berdoa, berziarah, dan bertapa.

"Asal kalau mau berdoa di Gua Matu jangan Jumat pagi, karena para penghuni Gua Matu sedang dalam persiapan untuk melaksanakan salat Jumat," ceritanya.

Makmur menceritakan, pernah ada seseorang yang mengambil kotoran kelelawar untuk pupuk kandang pada Jumat pagi.

Lalu orang tersebut ditegur oleh penghuni Gua Matu.

"Pencari pupuk itu kabur karena melihat sosok orang tua mengenakan pakaian muslim dengan setelan sarung dan kopiah menegurnya," kisah Makmur.

"Pak, jangan ngambil pupuk ini pas Jumat pagi. Soalnya kami mau beribadah," kata Makmur, menirukan ucapan sosok orang tua itu.

( Tribunlampung.co.id / Nanda Yustizar Ramdani )

Baca berita Pesisir Barat Lampung lainnya

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved