Lampung Selatan
Empat Mahasiswa Itera Lampung Suling Air Laut Jadi Tawar, Penuhi Kebutuhan Warga Pulau Rimau
Empat mahasiswa berhasil suling air laut menjadi air tawar bersih dengan mengandalkan tenaga surya untuk penuhi kebutuhan air masyarakat Pulau Rimau.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Hanif Mustafa
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG SELATAN - Tiga bulan sudah warga Dusun Pulau Rimau, Desa Sumur, Ketapang, Lampung Selatan merasakan kemudahan menikmati air tawar bersih.
Sebelumnya, masyarakat Dusun Pulau Rimau kesulitan menikmati air bersih lantaran tinggal dekat lautan yang menjadikan sumber air terasa asin dan sedikit keruh.
Ternyata kemudahan air bersih yang didapat masyarakat Dusun Pulau Rimau tidak terlepas dari campur tangan empat mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) Lampung.
Keempat mahasiswa ini berhasil menyulap air laut menjadi air tawar bersih dengan mengandalkan tenaga surya untuk masyarakat Pulau Rimau.
Tak cukup sampai disitu, tim Itera ini bahkan masuk perangkingan dan menjadi peserta Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke 34 tahun 2021.
Baca juga: PTMT Tahap 2 di Lampung Selatan Akan Diikuti 355 Sekolah Dari PAUD, SD dan SMP
Keempat mahasiswa berprestasi tersebut adalah Ahmad Rafi Apriliawan, Siti Muslimah, dan Andini Juliana dari Program Studi Teknik Sistem Energi, serta M Pait Ali dari Program Studi Teknik Material.
Lewat teknologi dan inovasi yang mereka kembangkan dengan sistem penyulingan air bersih yang terintegrasi panel surya, masyarakat Pulau Rimau akhirnya merasakan kemudahan menikmati air tawar bersih sejak awal Agustus lalu.
Salah satu mahasiswa yang terlibat dalam pengabdian masyarakat, Siti Muslimah membeberkan, munculnya ide penelitian sendiri karena cerita dari kakaknya mengenai Dusun Pulau Rimau yang kesulitan mendapatkan air bersih. Lokasi tempat tinggal yang dekat laut membuat sumber air terasa asin dan kurang bersih.
"Kebetulan dusun ini dekat dengan tempat tinggal saya, hanya sekitar 25 menit dari rumah. Sehingga tidak mungkin untuk saya terus menutup mata dan tidak peduli dengan sekitar," beber perempuan berhijab ini kepada Tribunlampung.co.id, Selasa (5/10/2021).
Kemudian, dari kampus tempatnya menimba ilmu, ada program Penerapan Kreativitas Mahasiswa- Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) yang didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud Ristek) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Baca juga: Besok 55 Peserta PPPK Non Guru Ikut Tes SKD di Kampus Itera
"Sehingga saya bersama teman-teman dalam tim menjadikan momen ini untuk memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat Pulau Rimau, utamanya dalam mengatasi permasalahan air bersih," tutur anak ke 5 dari 5 bersaudara itu.
Terlebih Dusun Pulau Rimau juga memiliki potensi EBT (Energi Baru Terbarukan) terutama dalam hal energi surya karena mayoritas masyarakat tinggal di pinggir pulau di tengah laut Selat Sunda.
Produk alat penyulingannya juga terbilang sederhana. Berupa wadah berbentuk persegi panjang berukuran 60 sentimeter x 80 sentimeter, pada bagian dalam diberi sekat berukuran 25 sentimeter pada bagian kanan dan kiri wadah. Tersisa 10 sentimeter pada bagian tengah wadah.
"Fungsi bagian kanan dan kiri wadah untuk air laut yang akan disuling dibantu oleh 2 waterheater sedangkan bagian tengah merupakan air hasil penyulingan," jelas perempuan kelahiran 30 Juni 2021 ini.
Waterheater dipanaskan menggunakan listrik dari panel surya berkapasitas 240 WP dengan komponen pendukung seperti baterai VRLA 12V 20 Ah, solar charger controller, dan inverter 1.000 watt.
Alat tersebut dilapisi plastik dan terdapat beban pemberat pada bagian atas alat.
Dengan daya tampung air laut sebanyak 84 liter, alat tersebut menghasilkan sekitar 24 liter air bersih dalam satu hari.
Secara teknis dalam pengaplikasian alat, diakuinya tidak ada kesulitan berarti. Kendala justru dihadapi dalam hal komunikasi dengan warga setempat.
Karena jarak Pulau Rimau yang cukup jauh dari Itera dan harus menyeberangi lautan sehingga komunikasi sedikit sulit.
"Terlebih kondisi Pulau Rimau yang belum terjangkau listrik PLN (Perusahaan Listrik Negara) membuat kepala dusun jarang aktif media WhatsApp. Kami perlu menunggu waktu sekitar 2-3 hari untuk mendapatkan balasan dari kepala dusun," imbuhnya.
Mahasiswa lainnya yang juga Ketua Tim Ahmad Rafi Apriliawan menambahkan, tak hanya menciptakan teknologi panel surya, timnya juga mengedukasi warga setempat terkait pemanfaatan panel surya dan agar bisa menjaga alat tersebut serta mengoptimalkannya.
"Untuk saat ini dampak yang didapat masih dalam skala kecil karena alat yang dibuat masih sederhana. Harus terus dikembangkan agar dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Pulau Rimau," beber mahasiswa semester 7 itu.
Melalui inovasi dan teknologi yang diaplikasikan di Pulau Rimau ini juga, timnya berhasil membawa nama Itera lolos sebagai peserta Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke 34 tahun 2021 di Universitas Sumatera Utara (USU) yang rencananya bakal digelar akhir Oktober mendatang.
"Alhamdulillah tim kami masuk perankingan dan lolos Pimnas," tambahnya.
Kepala Dusun Pulau Rimau Suhendra mengaku bersyukur atas inovasi dan teknologi yang sudah diterapkan mahasiswa Itera di daerahnya.
Sehingga warganya bisa menikmati air tawar bersih dengan lebih mudah.
"Tentunya sangat bermanfaat bagi kami, terimakasih tim Itera yang membantu kami mengatasi krisis air bersih. Kami puas, terlebih juga mendapatkan edukasi terkait cara penggunaan dan perawatan alatnya. Bahkan dibekali modul," tutur dia.
Dosen Pembimbing Mahasiswa, Madi mengungkapkan, tim Itera akan terus melakukan pengembangan secara berkelanjutan di Pulau Rimau agar air bersih yang dihasilkan bisa lebih banyak dengan meningkatkan kapasitas peralatan dan teknologi yang ada.
"Sudah dari Agustus 2021 warga Pulau Rimau memanfaatkan air tawar bersih dengan penyulingan yang memanfaatkan tenaga surya. Pastinya akan ada evaluasi untuk pengembangan agar dapat menghasillan air tawar lebih banyak. Geometri diperbesar, panel surya kapasitasnya ditambah," imbuhnya.
Untuk saat ini tim Itera tengah mempersiapkan diri di ajang Pimnas. Tim pilihan dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia akan ada dalam ajang Pimnas tersebut.
"Tim nantinya akan mempresentasikan karyanya di 27 atau 28 Oktober mendatang jika tidak ada perubahan jadwal. Saat ini tim tengah mempersiapkan artikel ilmiah dan membuat poster berkaitan penelitian," jelas Madi.
Rektor Itera Prof Mitra Djamal mengapresiasi mahasiswanya yang mampu mengaplikasikan ilmu di tengah masyarakat dan memberikan ragam dampak positif.
Itera dikatakannya memang didirikan untuk menyiapkan sumber daya manusia ahli di bidang sains dan teknologi untuk menangani permasalahan yang dihadapi masyarakat maupun pemerintah di kabupaten/ kota di Lampung bahkan Sumatera.
“Kami ingin seluruh kabupaten bisa merasakan kehadiran Itera untuk membantu pembangunan dari sisi sains, teknologi dan seni,” ujar Prof Mitra Djamal.
Itera juga telah melahirkan berbagai inovasi lainnya diantaranya Smart Farm, alat tanam singkong, pupuk organik cair, dekektor jalan berlubang, sistem peringatan dini tanah longsor, hingga digital signature untuk validasi hasil tes Covid-19, dan masih banyak lainnya. ( Tribunlampung.co.id / Sulis Setia Markhamah )