Berita Terkini Nasional
Bocah SD Tewas Dianiaya Bapaknya Gara-gara Main Layang-layang dengan Adik
Korban yang masih berusia 13 tahun mengalami luka di bagian kepala dan lehernya akibat pukulan pedang-pedangan yang terbuat dari kayu.
Kejanggalan kematian Sepi terungkap saat jenazahnya hendak dimandikan.
Keluarga dan kerabat melihat adanya lebam di leher dan dada korban.
Mengutip Tribun Bali, setelah dimandikan, jenazah korban kemudian langsung dimakamkan.
Namun, keluarga dan kerabat yang penasaran dengan kematian Sepi kemudian melaporkan temuan itu ke Polsek Abang.
Akhirnya makam korban dibongkar untuk autopsi jenazahnya.
Ayah jadi tersangka
Untuk mengungkap kasus ini, polisi telah meminta keterangan dari sejumlah saksi, termasuk ayah korban.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, polisi kemudian menetapkan ayah korban sebagai tersangka dalam kasus tewasnya Sepi.
Hal tersebut diungkapkan oleh kuasa hukum Kicen, I Wayan Lanus Artawan, Senin (11/10/2021).
Dikatakan Lanus, status klien-nya dinaikkan menjadi tersangka pada 7 Oktober 2021.
"Tanggal 6 Oktober dimintai keterangan oleh penyidik, tanggal 7 Oktober ada surat perintah penangkapan, pemberitahuan, penangkapan, dan surat penetapan tersangka," ungkapnya.
Penetapan tersangka ini, kata Lanus, mengacu pada dua alat bukti lazim yang ditemukan oleh penyidik kepolisian.
Dua alat bukti lazim itu yakni berupa keterangan saksi dan beberapa barang bukti.
"Karena sudah ada dua alat bukti cukup kuat untuk menetapkan bersangkutan sebagai tersangka," terangnya.
Aniaya korban pakai benda tumpul
Diberitakan Tribun Bali, Kapolres Karangasem, AKBP Ricko Abdillah Andang Taruna, mengatakan luka lebam yang ditemukan di tubuh korban dikarenakan pukulan benda tumpul.
"Penyebab kematian karena kekerasan benda tumpul pada leher mengakibatkan terlepasnya sendi tulang leher dan menimbulkan robekan pembuluh nadi yang berada di sekitar saluran penonjolan tulang belakang," kata Kapolres.
Ricko mengungkapkan, pelaku nekat menganiaya korban karena kesal.
Sebab, sejak pagi korban bermain layangan bersama adiknya dan tidak mau membantu pekerjaan orang tuanya.
"Selasa (21/9/2021) sekitar pukul 07.30 Wita, korban bersama dua adiknya main layangan, sedangkan orang tuanya cari rumput."
"Setelah mencari rumput, Kicen sempat istirahat beberapa menit serta melihat anaknya sedang bermain air di rumah," beber Ricko.
Melihat itu, Kicen kesal lalu bertanya ke korban, "Sudah selesai bermain layangan?"
Mendengar pertanyaan ayahnya, korban menjawab sudah selesai bermain layangan karena panas.
Dari situ, emosi Kicen tak terbendung lalu menganiaya anaknya hingga tewas.
"Kicen mengambil pedang-pedangan di lantai lalu memukul kepala dan lehernya."
"Pedang-pedangan ini terbuat dari kayu, panjangnya sekitar 56 sentimeter berwarna cokelat muda," ungkapnya.
Korban sempat menangis kesakitan
Mendapat penganiayaan dari ayahnya, Sepi sempat mengerang kesakitan dan menangis terisak.
Mirisnya, pelaku malah semakin menjadi-jadi menganiaya korban.
Ia menganiaya anaknya menggunakan bambu hingga terjatuh ke lantai dan kejang-kejang.
Setelah itu, pelaku mengangkat anaknya dan dibawa ke kamar.
Di kamar itu, Kicen mengambil baju untuk membekap mulut dan hidung korban.
"Karena menangis keras akibat kesakitan, tersangka membekap mulut dan hidung korban dengan kain beberapa menit."
"Setelah itu bekapannya dibuka dan suara mengecil seperti bengek," papar Ricko.
Kicen kemudian meninggalkan anaknya di kamar, selang beberapa menit Sepi dinyatakan meninggal. (*)
Artikel ini telah tayang di bali.tribunnews.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/bom-kampung-melayu_20170525_141858.jpg)