Wawancara Eksklusif

Damar Soroti KDRT di Lampung: Kampanyekan Lelaki Sejati Tidak Lakukan Kekerasan

Damar kampanyekan, laki-laki sejati bukan melakukan kekerasan, perlu ada rekonstruksi baru supaya nilai ini bisa diperbarui dengan nilai positif.

Penulis: kiki adipratama | Editor: Tri Yulianto
Tribunlampung.co.id/Kiki Adipratama
Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi Perempuan Damar Lampung Ana Yunita. Damar Lampung kampenyekan laki-laki sejati tidak lakukan kekerasan untuk cegah KDRT. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) kembali ditemui di tengah masyarakat.

Kasus KDRT bahkan mengakibatkan korbannya meninggal dunia seperti di Kabupaten Way Kanan dan Tulangbawang Barat, Lampung.

Lantas bagaiamana solusi meminimalisir KDRT pada keluarga?

Berikut petikan wawancara Tribun dengan Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi Perempuan Damar Lampung Ana Yunita pada Jumat (18/11).

Kasus KDRT belakangan marak terjadi. Menurut Anda apa penyebab KDRT ini?

Ya memang Damar sendiri sepanjang Januari-Juni 2022 mendokumentasikan kasus dari media cetak maupun online kurang lebih ada 40 persen terjadi kasus KDRT. Kenapa sih ini terjadi? Kami melihat ada konstruksi sosial yang membangun konsep diri menjadi maskulinitas terhadap laki-laki sehingga menimbulkan konsep diskriminatif.

Baca juga: Usai Konsumsi Sabu, Dua Pengedar Ditangkap Satresnarkoba Polres Tanggamus Lampung

Baca juga: BPBD Imbau Nelayan Waspada Potensi Gelombang Tinggi di Pesisir Barat Lampung

Jadi membekukan bahwa konsep laki-laki itu adalah maskulin atau tegas dan keras. Sehingga laki laki itu menjadi orang yang identik dengan kekerasan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi termasuk dalam keluarga.

Di dalam keluarga, siapa yang mempengaruhi pembentukan konstruksi nilai kekerasan ini?

Jika kita melihat, dalam membangun relasi konstruksi ini yang paling tinggi itu adalah ayah. Maka siklus kekerasan itu rentan terjadi antara suami ke istri sehingga itu akan membentuk anak-anaknya ketika melihat KDRT itu terjadi. Jadi si anak ini akan merasa bahwa menjadi laki-laki dalam keluarga itu ya seperti itu, padahal tidak.

Jika dilihat, KDRT ini bisa terjadi pada setiap kalangan baik bawah, menengah, bahkan atas sekalipun. Bagaimana menurut Anda?

Sebetulnya nilai konstruksi ini memang sudah melekat pada setiap orang, tapi tidak secara natural. Artinya ada yang membentuk konstruksi menjadi positif atau juga negatif. Jadi kalangan apapun bisa saja melakukan KDRT.

Terbaru, di Tubaba ada kasus suami aniaya istri. Kemudian setelah itu suami diduga bunuh diri dengan masuk ke dalam sumur. Menurut Anda bagaimana melihat kasus ini?

Bicara kekerasan rumah tangga ini bisa terjadi pada anak ayah atau ibu. Jadi definisi keluarga adalah yang tinggal di rumah itu.

Jadi kekerasan itu bisa terjadi pada semua orang dalam anggota keluarga itu. KDRT yang terus terjadi hingga menimbulkan rasa stres membuatnya kehilangan akal sehat sehingga berakhir dengan seperti itu.

Halaman
123
Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved