Lampung Bangkit
Hantoni Hasan Sebut Pendapatan Petani di Lampung Minim, Tidak Seimbang Besarnya Biaya Produksi
Kondisi ini, menurut Hantoni, tidak sebanding dengan kerja keras yang dilakukan petani untuk membangkitkan hasil pertanian di Lampung.
Hantoni Hasan pun mengestimasi pendapatan rata-rata yang didapat petani setelah di potong ongkos produksi.
Dia mencontohkan jika seorang petani mengeluarkan biaya produksi misalnya Rp 1 juta dalam setiap panen.
“Kalau 10 persen dari Rp 1 juta berarti pendapatan petani berkisar Rp 100 ribu. Nah, kalau 2 persen dari Rp 1 juta itu berarti hanya dapat Rp 20 ribu,” ungkap Hantoni Hasan.
“Coba bayangkan, kan tidak seimbang dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Apa yang bisa dihasilkan petani yang penghasilan Rp 20 ribu itu,” sambungnya.
Oleh karenanya, Hantoni menilai, tantangan pembangunan pertanian kedepan bukan hanya fokus pada meningkatkan produksi pertanian saja, namun juga bagaimana bisa meningkatkan kesejahteraan petani.
“Tentu persoalan ini tidaklah sederhana, butuh keterlibatan semua pihak. Bagimana kita bisa mengatasi masalah ini, tentu kita harus memahami faktor penyebab NTP kita rendah,” paparnya.
Hal pertama yang mesti di urai ialah soal produksi. Pada tahap ini, kata Hantoni, erat kaitannya dengan sarana produksi pertanian yang harus tersedia.
“Selain sarana pertanian juga soal ketersediaan pupuk. Ini harus jadi perhatian,” sebutnya.
Persoalan lainnya, kata Hantoni, adalah soal luas lahan pertanian yang digarap dan dimiliki petani.
Hantoni menyebut rata-rata petani di Lampung memilki lahan pertanian yang kecil, tidak sampai satu hektar.
Kondisi ini juga menjadi faktor minimnya pendapatan yang didapat petani, tidak sebanding dengan ongkos produksi yang dikeluarkan.
“Artinya lahan pertanian yang dimiliki petani kita itu tidak memadai. Dengan kata lain, jika lahannya kecil maka otomatis produksinya untuk petani juga kecil,” terang Hantoni.
Setelah semua sarana pertanian di penuhi, selanjutnya Hantoni menuturkan, persoalan di hilir yang juga layak menjadi perhatian bersama adalah ketersediaan pupuk dan menaikkan harga jual petani.
Ketersediaan pupuk dan mempertahankan harga jual ini juga penting sebagai faktor untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kita dari dulu hanya fokus di hulu saja, soal sarana pertanian. Padahal persoalan di hilir juga penting, pupuk dan harga jual petani. Faktor di hilir ini sangat mempengaruhi juga kesejahteraan petani, Ini kedepan yang harus di benahi,” tandas Hantoni Hasan.
(Tribunlampung.co.id/endra zulkarnain)